Sudah part 6 nih chingu-deul.. sebentar lagi ending.. yuhuu..
Dan aku berencana bikin sequelnya, tapi kayaknya sequelnya lebih ke jinyoung deh bukan ke taeyeon. karena menurutku part jinyoung disini agak kurang, hehe.. mian ne untuk taeganger..
dan sebentar lagi akan fokus untuk ff The Time We Were Not In Love..
ok let's read chingu - deul..
- Kim Taeyeon
- Jung Jinyoung
- Jung Jessica
- Choi Minho
- Park Chanyeol
Other Cast :
- Oh Yeonseo as Jung Inyoung (Ibu Jessica, Guru Bahasa inggris)
- Joowon as Jung Joowon (Ayah Jinyoung)
- Leejoon as Jung Joonyoung (Ayah Jessica)
- Kim Taehee as Ibu Jinyoung
- Jung Illwoo as Paman Jinyoung (Saudara Joowon)
- Nam Gyuri as Bibi Jinyoung (Istri Illwoo)
- Ahn jaehyun as Wali Kelas 10 – 2 di SMA Busan (kelas Taeyeon)
#################################################################
PART 6
Sepulang sekolah, bibi Jinyoung terkejut melihat wajah Jinyoung
yang babak belur. Bibi Jinyoung pun segera mengambil kotak P3K dan mengobati
luka Jinyoung. “apa kau bertengkar lagi? Ya ampun, lihatlah wajah mu yang
tampan ini menjadi mengerikan seperti ini.” Kata bibi Jinyoung seraya mengobati
luka Jinyoung.
“aku memang pantas bi mendapatkannya.” Ujar Jinyoung dengan tatapan
sayu. Bibi nya pun merasa kasihan, “memangnya kau melakukan kesalahan apa
sampai – sampai kau dipukuli seperti ini?” tanya bibinya. Jinyoung tidak menjawab dan hanya tersenyum
tipis pada bibinya.
“ah, semalam bibi dan paman kemana? Kenapa pulang sampai larut
sekali?” tanya Jinyoung berusaha mengalihkan pembicaraan. Bibi Jinyoung paham,
mungkin Jinyoung belum ingin bercerita tentang masalahnya.
“ah itu, kemarin bibi dan paman pergi malayat. Kau tahu kan ramen
langganan pamanmu itu, ramen milik nenek yang berada di ujung jalan itu. Kemarin
nenek itu meninggal, dan cucunya tinggal sendirian jadi kami menemaninya dulu.
Tapi bukankah dia satu sekolah denganmu?” jelas dan tanya bibinya itu.
Jinyoung masih meloading penjelasannya bibinya itu. Nenek pemilik
kedai ramen langganan pamannya itu bukankah itu neneknya Taeyeon? Jadi yang
dimaskut bibinya itu adalah nenek Taeyeon meninggal kemarin? Jinyoung pun
segera pergi tanpa berpamitan. “hei kau mau kemana? Aku belum selesai mengobati
lukamu!” panggil sang bibi namun Jinyoung sudah terlanjur pergi.
Sesampainya di dekat kedai, Jinyoung melihat chanyeol juga berdiri
di depan kedai mengawasi Taeyeon dan Minho yang duduk bersama di dalam. Jinyoung
benar – benar merasa buruk saat ini. Ia benar – benar membuat hidup Taeyeon
susah. Ia pun menundukkan kepalanya karena tidak mampu melihat wajah Taeyeon.
Dan saat itu, chanyeol melangkah pergi.
Tidak lama kemudian, sepasang sepatu menghampiri Jinyoung. Jinyoung
pun mendongak. “jika sudah datang kemari kenapa tidak langsung masuk?
Masuklah.” Kata Minho.
Dan Jinyoung pun mengekor di belakang Minho. Sesampainya disana, ia
duduk di seberang Minho dan Taeyeon.
“hei wajahmu kenapa?” tanya Minho yang menangkap wajah Jinyoung
yang lebam – lebam. “ah tidak apa – apa, lupakan saja.” Jinyoung berusaha
mengalihkan pertanyaan Minho.
Sejenak mereka bertiga diam. “aku minta maaf Taeyeon, aku baru
mendengar kabar tentang nenekmu dari bibiku” ujar Jinyoung memecahkan
keheningan.
“tidak apa – apa.” Jawab Taeyeon. “aku juga minta maaf atas
perbuatanku waktu itu, aku sudah membuatmu dalam masalah. Aku minta maaf.” Ujar
Jinyoung lagi. “jika kau merasa bersalah, kau seharusnya meminta maaf pada
nenekku. Karena nenek pasti sangat menderita setelah mendengar berita itu,meskipun
nenek percaya kalau aku tidak mungkin melakukan hal itu. Tapi tetap saja,
dimata orang lain aku lah yang salah, dan hal itu pasti membuat nenek menderita
dan hatinya sakit.” Kata Taeyeon, dan dalam sekejap saja matanya sudah penuh
dengan air mata lagi. Jinyoung pun terdiam mendengarnya. “ah, tapi bagaimana
ini? Bagaimana kau bisa meminta maaf pada nenek, kau tidak bisa. Karena nenek
sudah tidak ada lagi di dunia ini. Orang yang satu – satunya kupunya sudah
tiada.” Emosi Taeyeon pun pecah kembali. Ia kembali menangis ketika mengingat
neneknya.
Minho pun mencoba menenangkan Taeyeon dengan merangkul pundaknya. Sedangkan
Jinyoung benar – benar merasa sangat bersalah dan menyesal. Semua ini karena
ulahnya, andai saja waktu itu ia tidak berkata sepert itu pada Guru Jung untuk
menggeledah tas semua murid. Pasti semua ini tidak akan terjadi. Kini, Jinyoung
hanya bisa melihat Taeyeon yang menangis di pelukan Minho. Melihat air mata Taeyeon
yang mengalir deras seperti sungai itu membuat hatinya terasa sakit.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Lama kelamaan, hubungan Taeyeon
dan Jinyoung juga Minho menjadi dekat, mereka bertiga menjadi teman yang dekat. Dan
Jinyoung pun ingin melindungi taeyeon yang sudah tiddk mempunyai keluarga. Sedangkan Taeyeon
merasa nyaman di dekat Jinyoung, karena sikap Jinyoung sudah lebih baik dari pada
sebelumya.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sudah 3 hari Taeyeon tidak masuk sekolah, begitupun dengan Minho. Minho
masih setia menemani Taeyeon di rumahnya yang masih terpuruk dan belum bisa
menerima kenyataan yang ada. Taeyeon bahkan tidak mau makan maupun minum, hal
itulah yang membuat Minho tidak bisa meninggalkan Taeyeon sendirian. Taeyeon
benar – benar seperti mayat hidup sekarang. Yang ia lakukan hanyalah duduk
termenung di kamar neneknya dan menatap foto neneknya.
Sedangkan Jinyoung, ia juga tidak masuk selama 3 hari ini. Bukan
karena ia bolos sekolah, tapi karena pengakuan palsunya itu ia di skor selama
seminggu. Dan kini ia sedang duduk di tepi sungai dengan berseragam sekolah. Ia
tidak mau membuat bibi dan pamannya khawatir dan berada dalam masalah. Makanya
ia tidak memberi tahu pada paman dan bibinya kalau ia di skor. Sudah 3 hari ini
ia berpamitan ke sekolah seperti biasanya, tapi setelah itu ia akan pergi ke
tepi sungai seperti saat ini sambil menunggu jam pulang sekolah.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Di sekolah
Meskipun keadaan kelas 10 – 2 bisa dibilang ramai, namun tetap
terlihat sepi menurut pak ahn yang tengah mengajar saat ini. Karena 3 muridnya
tidak ada disini, jadi kelas terlihat sepi dan ia tidak mempunyai gairah untuk
mengajar.
Di ruang guru
Guru Jung tengah memikirkan pertemuan terakhirnya dengan nenek Taeyeon
yang bisa dibilang tidak cukup baik. Karena setelah sekian lama mereka tidak
bertemu, dan disaat mereka diberi kesempatan untuk bertemu. Mereka malah
bertengkar. Menurut Guru Jung, waktu pertemuan mereka ini sangat tidak tepat.
Karena Guru Jung sudah menikah lagi dan mempunyai keluarga baru. Bagaimana
kalau keluarga barunya itu mengetahui tentang Taeyeon. Ia takut mereka tidak
akan menerimanya. Dan yang paling parah adalah, Taeyeon adalah teman sekelas
Jessica yang notabenya adalah anak dari suaminya itu. “maafkan aku bu, tapi
kurasa kita tidak seharusnya bertemu satu sama lain.” Ujar Guru Jung.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kembali ke rumah Taeyeon
Taeyeon kini keluar dari kamar neneknya dan mendapati Minho tengah
tertidur di meja pelanggan dengan tangan sebagai bantalnya. Taeyeon menatap Minho
cukup lama, hingga akhirnya ia menghampirinya dan duduk di bangku depan Minho
lalu menatap wajah Minho yang tampak lelah. Mungkin Minho lelah karena
menjaganya, sudah 3 hari ini Minho selalu menemaninya bahkan ia juga ikut bolos
sekolah.
Tangan Taeyeon pun tergerak untuk menyingkirkan rambut yang
menutupi wajah Minho, dan sentuhan Taeyeon itu membuat Minho bangun dan sedikit
terkejut melihat Taeyeon sudah ada di depannya.
“kenapa? Kau butuh sesuatu?” tanya Minho. Taeyeon menggeleng.
“tidak, aku tidak membutuhkan sesuatu.” Kata Taeyeon. “jika kau perlu sesuatu
katakan…………..” “Minho – ssi!” potong Taeyeon. “pulanglah, kau harus istirahat.
Kau pasti lelah.” Perintah Taeyeon.
“aku tidak akan pulang sebelum keadaanmu benar – benar pulih. Aku
akan pulang, jika mau makan, minum, tersenyum dan pergi ke sekolah lagi.” Pinta
Minho. “tidak bisa, aku tidak bisa pergi ke sekolah lagi..” kata Taeyeon lirih.
“kenapa? Kenapa tidak bisa? Apa karena insiden pencurian soal itu?”
tanya Minho. “bukan, hanya saja aku tidak perlu lagi ke sekolah itu. Aku bahkan
tidak punya siapa – siapa disana, aku tidak punya teman. Jadi untuk apa lagi
aku pergi ke sekolah. Nenek bahkan…”
“lagi? Sampai kapan kau akan terus seperti ini huh? Kau tahu, nenek
mu masih ada disini dan dia sedang menatapmu sekarang. Dia sangat sedih
melihatmu seperti ini. Apa kau mau nenekmu terus bersedih didunianya huh? Kau
bilang kau ingin membuat nenekmu bahagia. Jika kau ingin membuatnya bahagia,
kau harus tersenyum dan jalani hidupmu yang masih sangat Panjang. Walaupun
nenekmu sudah meninggal bukan berarti dunia ini berhenti Taeyeon. Dunia ini
masih berjalan, bumi terus berputar, waktu terus berjalan. Dan kau tidak boleh
menghabiskan waktumu hanya untuk bersedih. Kau harus bangkit. Kata siapa kau
tidak punya teman disekolah, ada aku. Ada aku yang siap menjadi teman, keluarga
atau nenekmu jika perlu. Jadi kumohon Taeyeon, bangkitlah dan tunjukkan pada
nenekmu kalau kau bisa hidup lebih baik dan tidak akan membuatnya khawatir.”
Jelas Minho Panjang lebar.
Taeyeon masih diam menatap Minho. “apa kau akan terus seperti ini?
Dan membuat nenekmu terus bersedih?” tanya Minho lagi yang melihat Taeyeon
hanya diam. “tidak, aku tidak ingin membuat nenek bersedih.” Jawab Taeyeon dan
mulai menangis lagi. Minho pun bangkit dan memeluk Taeyeon. “karena itu,
dengarkan aku. Kau harus jalani hidupmu dengan baik, hidupmu masih sangat
Panjang. Jadi buatlah kenangan yang indah selama waktu masih ada. Kau harus
tersenyum, dan pergi ke sekolah. Aku janji akan selalu menjagamu, jadi maukah
kau kembali ke sekolah besok bersamaku?” tanya Minho yang masih memeluk Taeyeon.
Taeyeon pun mengangguk di sela – sela tangisnya.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Keesokan harinya, adalah hari pertama Taeyeon dan Minho masuk
sekolah setelah 3 hari bolos. Taeyeon sedikit takut awalnya masuk ke sekolah,
namun Minho menggenggam tangannya dan tersenyum hangat padanya membuat perasaan
Taeyeon menjadi hangat dan akhirnya berani melangkahkan kakinya ke sekolah. Minho
terus menggandeng tangan Taeyeon sampai mereka tiba kelas dan duduk
dibangkunya.
Beberapa murid menghampiri Taeyeon dan meminta maaf pada Taeyeon
karena sudah menuduh Taeyeon mencuri soal ujian. Taeyeon sedikit bingung,
kenapa mereka meminta maaf? Memangnya pelakunya sudah ditemukan? Pikir Taeyeon.
“jadi kalian percaya kalau bukan aku pelakunya?” tanya Taeyeon.
“tentu saja, karena pelakunya sudah mengakui kesalahannya dan sekarang ia
menerima hukumannya.” Jawab temannya yang meminta maaf pada Taeyeon itu.
“memangnya apa hukumannya?” tanya Minho yang melihat Jessica baik –
baik saja, jika pelakunya mendapat hukuman setidaknya Jessica tidak akan baik –
baik saja seperti saat ini. “ah, dia diskor selama seminggu. Sebenarnya itu
kurang berat, tapi karena Jinyoung sudah mengakui kesalahannya, pak ahn jadi
meringankan sedikit hukumannya.” Jelas teman itu lagi.
“apa katamu tadi? Jinyoung?” kaget Minho. Taeyeon sebenarnya juga
kaget, ia sulit mempercayai bahwa pelakunya adalah Jinyoung. “kau yakin? Kau
tidak salah?” tanya Minho memastikan lagi. Dan teman itu mengangguk.
“tentu saja aku sangat yakin, Jinyoung mengakui nya di hadapan pak
ahn dan kami semua.” Ujar teman itu lagi. Minho pun melirik Jessica dan Seohyun
yang tengah asyik bercanda bersama. ‘bagaimana mungkin ini bisa terjadi,
seseorang yang harusnya dihukum adalah dia. Kenapa Jinyoung melakukan semua
ini, apa alasannya?’ batin Minho yang kesal dan menatap Jessica.
“ah tapi Taeyeon, benarkah selama 3 hari ini kau tidak masuk
sekolah karena kau merasa takut? Atau kau merasa malu karena dituduh mencuri
soal itu?” tambah temannya itu. Taeyeon pun diam mendengar pertanyaan temannya
itu, Minho yang mengerti pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi.
“sebenarnya waktu itu nenek Taeyeon sakit, dan kini neneknya sudah
meninggal. Karena itulah Taeyeon masih merasa sedih dan tidak bisa masuk
sekolah.” Jelas Minho ketika Taeyeon keluar kelas setelah mendengar pertanyaan
temannya itu. “ah? Benarkah neneknya sudah meninggal? Ah maaf aku tidak tahu
soal itu.” Sesal temannya itu. “tidak apa – apa, kurasa keadaan Taeyeon
sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja, aku minta padamu dan
teman – temanmu untuk tidak menjahili Taeyeon lagi.” Pinta Minho dengan
sungguh.
Di koridor sekolah, Taeyeon berpapasan dengan Guru Jung. Namun Taeyeon
tampak melamun sehingga tidak menyadari keberadaan Guru Jung jika saja Guru
Jung tidak memanggilnya. “kim Taeyeon – ssi, mau kemana kau? Pelajaranku
sebentar lagi dimulai.” Panggilnya. Taeyeon segera tersadar dan menyapa Guru
Jung. “ah maaf Guru Jung, saya akan pergi kamar mandi sebentar.” Ijin Taeyeon. Guru
Jung pun mengijinkannya dan segera masuk kelas. Saat masuk kelas, Guru Jung
melihat anaknya Jessica yang Nampak murung dari hari ke hari. Ia jadi merasa
kasihan. Namun saat hendak mulai pelajaran, Guru Jung samar – samar medengarkan
pembicaraan murid – muridnya yang kebetulan duduk di bangku depan. Mereka
membicarakan kabar tentang meninggalnya nenek Taeyeon. Guru Jung yang sempat
terkejut, hampir terjatuh dan membuat semua muridnya merasa cemas. Karena masih
terkejut, Guru Jung pun meninggalkan kelas dan ijin pergi ke UKS untuk meminta
obat.
Saat baru menutup pintu kelas dari luar, ternyata Taeyeon sudah
kembali dan melihat Guru Jung yang sepertinya sedang sakit. Taeyeon pun
bertanya apakah Guru Jung baik – baik saja dan Guru Jung hanya menjawab kalau
ia hanya sedikit pusing dan akan meminta obat di UKS. Mendengar jawaban Guru
Jung yang katanya baik – baik saja, Taeyeon pun hendak masuk kelas. Namun
tertahan karena Guru Jung bertanya padanya.
“benarkah nenekmu sudah meninggal? Kapan?” tanya Guru Jung dengan
hati – hati. Taeyeon berhenti dan memegang gagang pintu, ia sedikit menunduk.
“benar, 3 hari yang lalu nenek meninggal. Tepatnya sehari setelah nenek
dipanggil ke sekolah ini.” Jawab Taeyeon. Mendengar hal itu Guru Jung menjadi
merasa bersalah pada Taeyeon dan neneknya.
“maafkan aku Taeyeon, waktu itu aku sudah menuduhmu pencuri dan
maaf karena tidak mengetahui kabar tentang nenekmu.” Sesal Guru Jung. “ssaem,
anda tidak perlu meminta maaf. Anda tidak salah apa – apa. Memang awalnya aku
sedikit marah pada ssaem karena menuduhku. Tapi karena sekarang pelakunya sudah
mengaku, dan aku tidak terbukti bersalah. Aku sudah melupakan semuanya.” Kata Taeyeon
mencoba menghibur Guru Jung yang terlihat sangat merasa bersalah. “sungguh
ssaem, tidak apa – apa.” Tambahnya ketika Guru Jung mulai menitikkan air mata.
“maafkan aku Taeyeon – aa, sungguh maafkan aku.” Guru Jung tiba – tiba memeluk Taeyeon
dan membuat Taeyeon sedikit terkejut, namun ia menerima pelukan Guru Jung.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Jinyoung kini, hanya duduk di tepi sungai sampai saat ini. Ia
menyadari kalau sebentar lagi jam pulang sekolah. Ia pun bersiap – siap pergi,
namun mungkin karena terlalu lama duduk di tepi sungai kakinya jadi pegal dan
ia hendak terjatuh ketika mencoba berdiri.
“eoh, apa anda tidak apa – apa?” tanya seseorang yang tiba – tiba
menghampiri Jinyoung dan membantunya berdiri. Jinyoung menatap gadis yang
menolongnya itu, ia mengenakan seragam SMP. “aku tidak apa - apa.” Jawab Jinyoung. “benarkah?” tanya
gadis itu lagi.
“han raewoo, ayo cepat pergi! Apa yang kau lakukan disana? Kau
bilang akan mencuci tanganmu dengan cepat!” panggil teman – teman gadis itu.
Gadis itu menoleh ke sumber suara, sedetik kemudian ia menoleh pada Jinyoung.
“kau benar tidak apa – apa kan?” tanya gadis itu lagi memastikan. Jinyoung
hanya mengangguk. Gadis itu pun melepaskan tangannya yang tadi membantu Jinyoung,
setelah itu ia mencuci tangannya. Sebelum pergi, gadis itu menatap Jinyoung cukup
lama. “kalau begitu aku permisi.” Pamit gadis itu. Sedangkan Jinyoung masih
terdiam di tempatnya, ia pun tersadar kalau ia belum berterima kasih pada gadis
tadi yang sudah membantunya. Ia pun segera pergi dari sungai dan ia sudah
kehilangan jejak gadis itu.
Tidak jauh dari Jinyoung berdiri saat ini, Minho dan Taeyeon tampak
berjalan berdampingan dan mereka melihat Jinyoung yang tengah berdiri di tengah
jalan menatap entah apa itu. “bukankah itu Jinyoung?” tanya Minho. “emm, kau
benar. Ayo kita hampiri dia.” Sahut Taeyeon.
“hei, tukang bolos! Apa yang kau lakukan disini?” kata Minho seraya
menepuk pundak Jinyoung. “ahh kau membuatku kaget saja.” Kaget Jinyoung yang
tiba – tiba mendapat pukulan dari Minho. “cih, orang sepertimu bisa kaget.
ckck” kekeh Minho.
“apa yang kau lakukan disini dengan seragam sekolah? Kau kan sedang
diskors?” tanya Taeyeon yang berhasil
membuat Jinyoung terdiam. “jadi beritanya sudah menyebar dengan cepat ya.”
lirih Jinyoung. “eiy, tidak juga.” Kata Minho berusaha menghibur Jinyoung.
“aku tidak percaya kalau kau adalah pelakunya.” Kata Taeyeon dan
membuat Jinyoung menatapnya. “katakan padaku, kenapa kau melakukan hal itu?
Kenapa kau tiba – tiba mengaku sebagai pencurinya?” tambah Taeyeon.
“aku hanya ingin menebus kesalahanku padamu saja, sejak aku pindah
kesekolah itu. Aku hanya menyusahkanmu saja, dan hal ini terjadi juga karena
kata – kataku waktu itu. Maafkan aku, jika saja aku tidak mengatakan hal itu
pada Guru Jung maka masalah ini tidak akan menjadi serumit ini.” Jelas Jinyoung.
Taeyeon dan Minho menatap Jinyoung yang menunduk karena merasa bersalah dan
menyesal.
“lagi pula aku juga akan segera pindah dari sini, jadi itu tidak
masalah bagiku dihukum seperti ini.” Tambahnya. “kau akan pindah? Kenapa?
Bukankah kau baru pindah kesini? Kenapa tiba – tiba pindah lagi?” tanya Minho.
“disekolahku dulu, aku dituduh menjual obat – obatan terlarang. Karen ayahku
merasa malu, ia mengirimku kesini. Tapi sekarang, karena teman – temanku
berhasil menemukan buktinya dan menunjukkan pada ayahku kalau aku tidak
bersalah. Ayahku akhirnya percaya dan besok ayahku akan datang kesini untuk
menjemputku.” Jawab Jinyoung. “kau benar – benar akan pergi seperti ini? Tanpa
memberi tahuku siapa pelaku sebenarnya?” tanya Taeyeon. “sebagai permintaan
terakhirku, bisakah kau melupakan hal ini. Anggap saja pelaku sebenarnya adalah
aku, dan aku keluar dari sekolah ini karena merasa malu padamu.” Pinta Jinyoung.
“mana bisa seperti itu, itu bukan salahmu aku tahu itu.” Tolak Taeyeon.
“kalau begitu cari sendiri pelakunya, dan jika sudah menemukannya. Apa yang
akan kau lakukan?” tanya Jinyoung, namun Taeyeon terdiam. “aku mohon! Kau
lupakan masalah ini, ehm? Ini demi kebaikan kita semua.” Pinta Jinyoung. “aku
tidak bisa.” Tolak Taeyeon lagi dan pergi meninggalkan Jinyoung bersama Minho.
Minho menatap Jinyoung, “kenapa kau tidak mengatakan kalau
pelakunya adalah Jessica? Kenapa kau melindunginya? Apa kau menyukainya?
Jessica?” tanya Minho. “ini bukan untuk Jessica, tapi ini untuk Taeyeon. Kau
tahu jika aku melaporkan pelakunya adalah Jessica, apa yang akan diperbuat
Jessica untuk Taeyeon kedepannya? Kau tahu dengan sangat baik, seberapa
bencinya Jessica pada Taeyeon. Dan jika hal ini sampai terungkap, Jessica akan
dihukum sepertiku. Bahkan dia bisa saja semakin membenci Taeyeon dan akan
membuat Taeyeon dalam bahaya. Aku tidak mau itu terjadi, jadi hanya ini yang
bisa kulakukan untuk Taeyeon sebelum aku pergi dari sini.” Jelas Jinyoung. Minho
pun akhirnya memahami situasi Jinyoung saat ini.
Taeyeon yang sudah berjalan cukup jauh di depan, tiba – tiba
berhenti dan berbalik. “apa kau sudah makan? Ayo kita makan di kedaiku, anggap
ini sebagai salam perpisahan dariku!” kata Taeyeon cukup keras. Minho tersenyum
mendengarnya, “benar! Ayo!” sahut Minho dengan semangat. Dan mereka bertiga pun
pergi ke kedai Taeyeon. Ternyata disana sudah ada paman dan bibi Jinyoung.
“paman, bibi apa yang kalian lakukan disini?” tanya Jinyoung. Taeyeon juga
heran dna ingin menanyakan hal yang sama namun sudah didahului Jinyoung.
“kami sangat menyayangi nenek kim dan cucunya ini. Kami sudah
menjadi pelanggannya selama kurang lebih 5 tahun sejak kami pindah kesini. Dan
karena Taeyeon kini hidup sendiri, setidaknya kami ingin membantunya membuka
kembali kedai ini. Akan sangat disayangkan kalau tiba – tiba kedai ini tutup.”
Jelas bibi Jinyoung. “bibi..” lirih Taeyeon seraya berjalan mendekati bibi Jinyoung
lalu memeluknya. “terima kasih banyak.” Kata Taeyeon. Semua orang pun terharu
melihatnya.
Kini kedai Taeyeon mulai buka kembali, dan bibi dan juga paman Jinyoung
yang membantunya memasak di dapur. Namun Taeyeon ingin besok saja mulai dibuka
kembali, karena untuk hari ini saja ia ingin menghabiskan waktunya bersama
orang – orang yang selalu ada untuknya, seperti Minho, Jinyoung dan juga paman
serta bibinya.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Keeokan harinya.
Jinyoung dan ayahnya sudah menghadap Guru Ahn selaku wali kelas Jinyoung.
kedatangan ayah Jinyoung adalah untuk meminta surat ijin pindah untuk anaknya,
karena ia akan membawa kembali anaknya.
Namun tidak lama kemudian, Guru Jung masuk ke ruang guru dan
kebetulan bangkunya dekat pak ahn, jadi ia segera menuju bangkunya dan duduk.
“jung inyoung..” panggil ayah Jinyoung. sontak Guru Jung menoleh dan betapa
terkejutnya Guru Jung melihat siapa yang memanggilnya itu. “kau…” lirih Guru
Jung.
“ayah kau mengenal Guru Jung? Bagaimana bisa?” tanya Jinyoung.
“jadi anda dan Guru Jung sudah saling mengenal satu sama lain ya?” tambah Guru
Ahn. “dia adalah mantan istriku, kami bercerai sekitar 17 tahun yang lalu.”
Jawab ayah Jinyoung membuat Guru Ahn dan Jinyoung terkejut, begitupun dengan Guru
Jung yang langsung menatap ayah Jinyoung. “ayah.. benarkah itu? Ayah tidak
berbohong?” tanya Jinyoung dengan lirih, “maafkan aku Jinyoung – aa, tapi
kurasa sudah saatnya kau tahu tentang hal ini.” Kata ayahnya. “kalau dia adalah mantan istri ayah, jadi.. Jessica
adalah saudara tiriku? Begitu?” tanya Jinyoung entah pada ayahnya atau Guru
Jung.
“bukan, jessica bukan saudaramu. Dia adalah anak dari suamiku,
Jessica bukan saudaramu.” Jelas Guru Jung. “jadi kau juga menikah lagi?” tanya
ayah Jinyoung. “tentu saja, apa menurutmu aku harus diam begitu saja ketika
mengetahui suamiku berselingkuh akhirnya ia lebih memilih selingkuhannya itu
dari pada istrinya yang saat itu tengah mengandung.” Emosi Guru Jung kini sudah
meluap. “berselingkuh?” lirih Jinyoung. “Jinyoung, ayah bisa jelaskan hal ini.
Kau harus percaya pada ayah. Guru Ahn, bisakah anda membawa Jinyoung pergi
sebentar. Aku akan berbicara dengan Guru Jung.” Pinta ayah Jinyoung pada Guru
Ahn.
Guru Ahn yang mengerti situasi saat ini tidak baik untuk Jinyoung
juga, ia pun segera membawa keluar Jinyoung dari ruang guru. Setelah Jinyoung
dan Guru Ahn pergi, ayah Jinyoung melanjutkan pembicaraannya dengan Guru Jung.
“apa kau harus mengatakan hal itu didepan anakku eoh?” bentak ayah Jinyoung.
“benar, dia harus tahu kenyataan yang sebenarnya. Dia harus tahu kalau karena
dialah penyebab keluarga kita menjadi hancur dan membuat anak kita menderita.”
Tanpa sadar Guru Jung menyangkut – nyangkutkan anaknya. “menderita? Apa yang
sudah dialaminya selama ini? Apa dia baik – baik saja?” tanya ayah Jinyoung.
“sudah 17 tahun dan kau baru menanyakan keadaannya. Apa kau sudah gila eoh?
Kemana saja kau selama ini? Kenapa kau baru muncul dan tiba – tiba menanyakan
keadaannya?” kata Guru Jung.
“maafkan aku, tapi aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu.
Jadi katakan saja bagaimana keadaan anakku?” tanya ayah Jinyoung. “dia baru saja
kehilangan neneknya.” Jawab Guru Jung setelah terdiam beberapa saat.
“apa katamu? Jadi ibu sudah meninggal? Kapan? Kenapa kau tidak
memeberitahuku?” marah ayah Jinyoung. “aku juga tidak tahu mengenai hal ini,
aku baru tahu kabar kalau neneknya meninggal itu kemarin.” Balas Guru Jung
tidak kalah marahnya. “kau baru tahu kabarnya kemarin? Lalu apa selama ini kau
tidak tinggal dengan mereka?” tanya ayah Jinyoung dengan heran. Guru Jung
terdiam.
“jadi kau meninggalkannya dan menikah lagi? Kau meninggalkan anakku?”
kata ayah Jinyoung. “kau juga meninggalkannya, ingat itu! Jadi kenapa aku tidak
boleh meninggalkannya? Apa aku harus merawatnya sendirian dan menahan rasa
sakit yang kau tinggalkan untuk kami sendirian begitu?” balas Guru Jung. Kini
giliran ayah Jinyoung yang terdiam.
“pergilah, aku tidak ingin melihatmu lagi.” Usir Guru Jung.
“bisakah kau memberi tahuku dimana dia sekarang?” tanya ayah Jinyoung dengan
nada rendah. “apa jika aku memberitahumu, kau akan membawanya hidup bersamamu?
Apa istrimu akan menerimanya dengan baik?” tanya Guru Jung namun ayah Jinyoung
hanya diam. “jika kau tidak ingin merawatnya, sebaiknya kau tidak perlu tahu
dimana dia, dan bagaimana keadaannya.” Akhirnya karena ayah Jinyoung tidak
kunjung pergi, Guru Jung pergi karena tidak tahan bertengkar dengan ayah Jinyoung
itu.
Diluar, Jessica tidak sengaja mendengar hal itu, ia bersembunyi
saat ibunya keluar dari ruang guru. “jadi ibu sudah punya anak sebelum menikah
dengan ayah? Kenapa selama ini ia tidak pernah menceritakan padaku? Apa ayah
tahu hal ini?” pikir Jessica.
Tbc…
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar