Senin, 09 Juni 2025

EVERYTHING HAS CHANGE

 



CAST :

JUNG YUMI

MACKENYU ARATA

NO MINWOO


 

EVERYTHING HAS CHANGE

Di sebuah Aula, sudah banyak reporter yang datang untuk meliput sebuah issue yang saat ini tengah menarik di kalangan masyarakat. JUNG YUMI, yang saat ini tengah berdiri di tengah podium untuk memberikan klarifikasi atas issue yang terjadi saat ini.

“Berita yang beredar mengenai Mackenyu Arata, memang benar dia beberapa hari yang lalu menghabiskan waktu bersama teman – temannya untuk merayakan kemenangannya atas kejuaraan balap mobil beberapa hari yang lalu.” Ujar Yumi.

“Dan mengenai berita Mackenyu Arata berselingkuh dariku itu tidaklah benar. Publik hanya menggoreng issue yang semakin lama semakin panas untuk disebar luaskan. Karena itu aku berada disini untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi mengenai hubunganku dengan Mackenyu Arata.” Imbuhnya.

“Apa itu artinya hubungan kalian baik – baik saja? Dan kalian akan tetap melangsungkan pernikahan?” tanya salah satu reporter di depan Yumi. Yumi menatapnya dan menjawabnya dengan lantang, “Kami baik – baik saja, tidak ada masalah antara aku dan Mackenyu. Kami akan menindaklanjuti ke pihak hukum jika masih ada yang menyebarkan rumor palsu mengenai hubungan kami.”

Di tempat lain, seorang dokter dengan kacamatanya tengah menatap Yumi dari layar Televisinya. Tatapannya datar dan tetap fokus menatap layar besar itu hingga seorang membuka pintu ruangannya dan memanggilnya. “Ruang operasi sudah siap Dokter Minwoo.” Ujar seorang perawat. Tanpa menjawab, dokter yang dipanggil Minwoo tadi segera mematikan TV nya dan bangkit.

Sedangkan MACKENYU ARATA, yang menjadi pusat issue saat ini. ia terlihat menikmati pesta bersama beberapa teman – temannya dan beberapa gadis juga terlihat duduk disampingnya. Ia tersenyum dan bersulang bersama teman – temannya. Sebelum meminumnya minumannya, ia sempat bergumam, “pembohong!” Mackenyu tersenyum pahit sebelum akhirnya menenggak minumannya sampai habis.

FLASHBACK

Beberapa tahun yang lalu sebelum Mackenyu terkenal, ia masih berlatih balapan mobil. Dan saat mengikuti perlombaan balap mobil pertamanya. Jung Yumi datang memberikan dukungan. “Kau pasti bisa! Lakukan dengan baik, kau yang terbaik!” ujar Yumi seraya mengacungkan 2 jempolnya sebelum Mackenyu masuk ke mobilnya. Mackenyu tersenyum dan ia terlihat senang sekali.

**

Pagi harinya, Mackenyu masih pulas di tempat tidurnya. Ia masih menikmati tidurnya atau mungkin ia masih berada dibawah pengaruh minumannya kemarin malam. BRAKKKK. Pintu kamarnya terbuka dengan cukup keras namun tidak membuatnya bangun atau bahkan melenguh. YUMI, ia segera mendatangi Mackenyu dan menarik tangannya untuk bangkit. Dengan keadaan masih setengah sadar, Mackenyu berhasil duduk di tepi kasur.

“Sampai kapan kau akan terus membuat masalah? Kau tau kau itu pusat reporter mencari uang. Apapun yang kau lakukan meraka sangat tertarik. Jadi berhati – hatilah, kau selalu membuat masalah dan aku yang menyelasaikannya. Dan juga, tidak bisakah kau menjaga jarak dengan wanita – wanita itu huh?” marah Yumi.

Mackenyu sedikit menguap dan mencoba menyadarkan dirinya dari rasa kantuk dan pusing. “kenapa kau sangat berisik sekali pagi – pagi?” ujarnya dengan acuh. “apa kau tidak mendengarku? Kau lihat berita kan?” marah Yumi sekali lagi karena merasa diacuhkan oleh Mackenyu. Mackenyu bangkit dan mengambil air minum diikuti Yumi yang mengikutinya dari belakang untuk meminta penjelasan.

“aku tahu, berita? Karena akulah yang selalu menarik perhatian mereka. Mackenyu Arata, si pembalap No 1 dari Jepang.” Ujarnya dengan menyombongkan diri. Yumi menatapnya dengan heran dan sedikit menggigit ujung bibirnya karena merasa kesal.

“berhentilah keluar dengan wanita – wanita itu.” Ungkap Yumi dengan serius. Mackenyu menatapnya dengan senyuman sinis. “kenapa aku harus melakukannya?” tanyanya dengan nada mengejek. "karena kita adalah tunangan dan sebentar lagi menikah, kau masih bertanya kenapa?" heran Yumi. “tapi hubungan ini palsu, apa yang kau harapkan dari hubungan palsu ini huh? Menikah? Kau lucu sekali Jung Yumi.” Balas Mackenyu dengan dingin.

“bahkan kau yang memulai hubungan palsu ini.” kata Yumi. “kau benar, dan aku merasa menyesal …” PLAKK . Sebuah tamparan berhasil mendarat ke pipi kiri Mackenyu. Mackenyu hanya tersenyum kecut setelah mendapat tamparan itu.

**

Setelah penat dengan pekerjaannya di kantor, Yumi memutuskan keluar untuk mencari makanan atau minuman apapun yang bisa mengalihkannya dari pekerjaannya. Tanpa ia duga, ia malah bertemu dengan Dokter Minwoo yang saat itu juga membeli kopi di sebuah café.

Setelah Yumi menerima kopinya, ia berusaha untuk tidak melihat Minwoo dan mengabaikannya. Namun tidak dengan Minwoo, “Kenapa kau masih berhubungan dengan laki – laki itu? Bukankah sudah kubilang padamu kalau kau bisa dapat lelaki yang jauh lebih baik dari Mackenyu. Lihatlah sekarang, dia hanya mempermainkanmu.” Lirih Minwoo saat Yumi melewatinya. Perkataan Minwoo itu membuat langkah Yumi berhenti dan kembali untuk menatapnya.

Yumi mengambil nafas sejenak sebelum menjawab perkataan Minwoo tadi, “aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian, tapi kau lah mengenalkanku dengan Mackenyu. Dan kau bilang padaku kalau Mackenyu sudah seperti adik kandungmu sendiri. Kenapa kau sekarang menjelek – jelekkannya?” tanya Yumi.

“itu benar, aku tidak menyangkalnya. Dia memang sudah kuanggap seperti adikku sendiri, sehingga aku rela memberikan apapun untuknya supaya dia senang. Tapi ini masalahnya berbeda, apa kau akan terus melanjutkan hubunganmu dengannya?” tanya Minwoo sekali lagi dengan tegas. “itu bukan urusanmu.” Jawab Yumi dan mengalihkan pandangannya dari Minwoo. “itu masih urusanku, karena aku peduli denganmu.” Kata Minwoo yang terlihat tulus tapi juga terlihat memaksa. Yumi sontak menatapnya lagi, “sadarlah Minwoo, hubungan kita sudah berakhir dan kau sudah meninggalkanku, lucu sekali mendengarmu bicara kau masih peduli padaku? Wah, aku benar – benar harus tertawa sepertinya.” Ejek Yumi. “kau tidak mengerti apa – apa Jung Yumi..” lirih Minwoo.

“Kau benar, aku tidak mengerti apapun. Yang aku tahu, kau meninggalkanku dan kau malu mengakui kalau kau punya hubungan denganku. Kau tahu, kau jahat sekali Minwoo!” setelah mengatakan hal itu, Yumi meninggalkan Minwoo yang masih berdiri di tempatnya menatap kepergian Yumi.

**

1 bulan kemudian, Mackenyu mengikuti Kejuaraan Balap Mobil. Saat ini pikirannya masih terlihat belum stabil dan ia juga belum berbaikan dengan Yumi. Namun ia tidak tahu kenapa ia bisa semarah ini dengan Yumi, hingga mendiamkan wanita itu setelah beberapa bulan. Dan sejak itu juga ia sering keluar bersama teman – temannya untuk minum hingga tersebar rumor bahwa dirinya berselingkuh dari Yumi.

“Apa kau siap Mack?” tanya seorang temannya yang berhasil membuyarkan lamunannya. Mackenyu tersenyum kecil dan mengangguk, “aku siap” ia pun segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya.

Kejuaraan mobilpun berlangsung dengan baik dan sengit. Mackenyu dan salah satu lawannya terus bergantian mengambil alih urutan nomor 1. Mackenyu pun mengerahkan segala kemampuannya untuk menyalip kembali lawannya itu, namun tiba – tiba saja ia hilang kendali dan mobilnya hampir terguling yang membuat semua orang panik seketika.

**

JUNG YUMI yang saat ini tengah mengadakan rapat di kantornya terkejut setelah menerima telfon kalau Mackenyu mengalami kecelakaan. Dengan panik, Yumi segera bergegas pergi untuk menemui Mackenyu. Di sisi lain, MINWOO yang dimintai tolong temannya untuk menggantikannya di acara Kejuaraan Balap Mobil itu juga terkejut.

Yumi bergegas berlari mencari keberadaan Mackenyu, hingga akhirnya ia tiba di sebuah tenda dan segera masuk untuk melihat MACKENYU. Nafasnya tersengal – sengal karena berlari. Ia mengatur nafasnya seraya menatap Mackenyu yang bersantai di matras. Yumi melihat tidak banyak luka di tubuh Mackenyu, ia bersyukur. Ia pun mendekati Mackenyu dan mengecek lebih teliti lagi tentang luka yang mungkin ada di tubuh Mackenyu. Ketika Yumi mengecek luka di tubuh Mackenyu, pintu tenda terbuka dan Minwoo masuk begitu saja dengan nafas yang hampir tersengal juga seperti Yumi tadi. Yumi menoleh dan sedikit terkejut melihat Minwoo, sedangkan Mackenyu langsung membuang mukanya ketika melihat Minwoo.

**

“kau yakin tidak ada masalahkan dengan Mackenyu? Dia benar – benar bisa melanjutkan untuk kejuaraan minggu depan kan?” tanya Yumi pada Minwoo setelah mereka keluar tenda. “dia baik – baik saja, tidak ada cedera apapun. Kau lihat sendiri tadi, hanya goresan kecil di lengannya. Dan itu akan sembuh secepatnya, kau tidak perlu khawatir” jawab Minwoo.

“syukurlah.” Yumi merasa lega karena keadaan Mackenyu tidak ada masalah. Minwoo menatap Yumi dengan tenang bercampur kerinduan. “kau sangat peduli dengan Mack, aku iri.” Mendengar hal itu, yumi pun membalas tatapan Minwoo.

**

Mackenyu mempersiapkan dirinya dengan berolahraga untuk kejuaraan minggu depan, karena kemarin ia mengalami kecelakaan kecil, jadi ia ingin menebusnya di kejuaraan berikutnya. Ia melatih ototnya di sebuah Gym. Ketika ia melatih otot lengannya, tiba – tiba bayangan wajah Yumi terlintas di pikirannya.

FLASHBACK

Yumi dan Mackenyu menghabiskan waktu bersama di dapur, mereka memasak Spagetti. “Ah, aku lupa memberi tahu Pak Jang tentang laporan hasil rapat kemarin.” Kata Yumi seketika setelah ingat laporan itu sangat penting. Karena tangannya saat ini sudah penuh bau dengan bumbu – bumbu, ia pun meminta tolong kepada Mackenyu untuk mengambilkan ponselnya di kamar.

Di kamar itu Mackenyu mencari keberadaan ponsel Yumi di beberapa tempat, hingga ia membuka sebuah laci karena ia pikir ponsel itu disana. Namun yang ia temukan adalah sebuah bingkai foto yang terbalik. Karena penasaran, ia pun mengambil dan membalikkan bingkai itu. Foto Yumi bersama Minwoo. Minwoo merangkulkan lengannya di pundak Yumi dan mereka berdua terlihat sangat senang. Disudut foto itu bertuliskan ‘Anniversary ke 5 th’

Mackenyu sangat terkejut dan ia merasa terpukul mengetahui hal itu, ia mencengkeram dengan kuat bingkai itu dan segera mengembalikannya ke tempat asalnya. Sejak saat itulah sikap Mackenyu berubah dingin kepada Yumi dan Minwoo.

“jangan berlatih begitu keras, kau juga butuh istirahat untuk kejuaraan minggu depan.” Tiba – tiba saja Minwoo sudah berada disampingnya, melakukan hal yang sama dengan Mackenyu. Mackenyu menghentikan kegiatannya dan menatap Minwoo. “apa yang kau lakukan disini?” tanyanya dengan ketus. “olahraga, aku juga sedang melatih ototku. Apalagi?” jawab Minwoo dengan santai.

“omong kosong.” Balas Mackenyu dan melanjutkan kembali kegiatannya. Giliran Minwoo yang berhenti dan kini menatap Mackenyu dengan serius. “sebenarnya aku punya pertanyaan untukmu, dan aku ingin memastikannya.” Kata Minwoo seraya menatap Mackenyu yang masih fokus dengan kegiatannya.

“Apa kau serius dengan Yumi?” tanya Minwoo namun belum mendapatkan jawaban karena Mackenyu masih fokus dengan olahraganya. “kau lihat sendiri betapa khawatirnya dia kemarin saat kau kecelakaan. Dia benar – benar peduli padamu Mack, apa kau tidak bisa melihatnya?” tanya Minwoo. “aku tidak tahu, yang aku tahu kau sangat peduli pada Yumi.” Jawab Mackenyu seraya menatap tajam kearah Minwoo. “dan aku juga peduli padamu Mack, tidak hanya Yumi saja. Kalian berdua sangat penting bagiku.” Balas Minwoo dengan cepat.

“kalau kau peduli dengan Yumi, kenapa kalian putus?” 1 pertanyaan yang membuat Minwoo terkejut. "kau tahu?“ tanyanya dengan penuh keheranan, karena ia berusaha dengan keras untuk menyembunyikan hubungannya dengan Yumi selama mereka menjalin hubungan. 5 th, bukan waktu yang sebentar namun Minwoo berhasil menyembunyikan hubungan mereka walaupun harus berakhir.

“kau tahu darimana? Apa Yumi yang mengatakannya padamu?” tanya Minwoo. “aku tidak sengaja melihat foto kalian yang masih disimpan Yumi.” Jawab Mackenyu. “kau tahu, dulu Yumi sering bercerita kepadaku tentang mantan pacarnya, hampir setiap hari ia selalu menceritakannya. Dengan bodohnya aku selalu mendengarnya, dan dengan bodohnya pula aku tidak menyangka kalau laki – laki jahat yang meninggalkannya dan mengabaikannya adalah dirimu. Ck, aku merasa dipermainkan disini. Aku berhubungan dengan mantan pacar orang yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, apa kau masih bisa kusebut kakak?” tanya Mackenyu.

“kau tidak tahu alasannya, jadi tidak perlu mengungkit masa lalu.” Minwoo berusaha mengalihkan pembicaraan. “kenapa kalian putus? Tidak tidak, aku lebih penasaran kenapa kau menyembunyikan hubunganmu dengan Yumi. Kau tahu dia sangat tersiksa dengan hal itu, dia setiap hari bercerita padaku, wajahnya yang sedih setiap kali bercerita padaku tentang pacarnya. Kau tidak tahu itu.” Kesal Mackenyu pada Minwoo.

“kau memarahiku karena hal itu? Bukankah kau ini juga yang kau lakukan pada Yumi saat ini? kau bermain – main dibelakangnya, sampai kapan kau akan mempermainkannya?” emosi Minwoo juga kian meningkat. “aku kesal dengan kalian berdua, kalian berdua telah membohongiku. Kalian menyembunyikan hubungan dariku selama bertahun – tahun.” Mackenyu pun memberikan sebuah pukulan ke wajah Minwoo.

Minwoo yang dari tadi sudah berusaha menahan amarahnya, kini balik mencengkeram kaos oblong yang dikenakan Mackenyu. “itu karenamu bodoh, semua itu ku lakukan karenamu.” Minwoo membalas tonjokan ke wajah Mackenyu. “15 th yang lalu, saat aku mengenalkan Yumi padamu kau ingat apa yang kau katakan padaku? Kau bilang tertarik dengan Yumi dan sangat menyukainya. Padahal saat itu aku dan Yumi sedang dalam masa pendekatan. Dan setelah hubungan kami berhasil, apa aku bisa membicarakan hal ini denganmu? Tidak, karena kau pasti akan sakit hati mendengarnya. Aku tidak mau hubungan kita rusak hanya karena masakah itu. Karena itulah aku meminta pada Yumi untuk merasahasiakan hubungan itu selama 5th. Apa kau tahu itu?”

Mackenyu tercengang mendengar penjelasan dari Minwoo barusan. “apa maksutmu?” tanya Mackenyu dengan sedikit bergetar. “itu benar, itu semua karenamu. Dan aku putus dengan Yumi juga karenamu. Aku tidak mau menyakitimu, aku tidak ingin kau menjauh. Aku tidak ingin kau marah padaku. Kau sangat penting bagiku, kau sudah seperti adikku sendiri, berapa kali harus ku bilang padamu kalau kau sudah seperti adikku sendiri. Bagaimana bisa aku merebut kebahagiaan adikku sendiri, aku rela memberikan apapun untukmu, termasuk merelakan hubunganku dengan Yumi.” Minwoo sudah berusaha keras untuk menahan airmatanya. “dan sekarang kau malah menyiakan kesempatan yang kuberikan, kau menyakiti Yumi. Kenapa?” tanya Minwoo yang kembali mencengkeram kaos oblong Mackenyu. Mackenyu hanya terdiam dan pasrah apa yang akan dilakukan Minwoo padanya, karena ia begitu terkejut dengan kebenaran yang disampaikan oleh Minwoo barusan.

**

Keesokan harinya Yumi membawakan beberapa makanan yang sudah ia masak untuk Mackenyu. Ia mengetuk pintu kamar Mackenyu karena ia pikir Mackenyu masih tidur. “Mack bangunlah, aku akan menyiapkan sarapan yang sudah ku masakan untukmu.” Kata Yumi di depan kamar Mackenyu, setelah itu ia ke dapur dan menyiapkan makanannya.

Mackenyu keluar kamar dan duduk menungguh sarapannya di meja makan. Yumi meletakkan beberapa piring di meja dan menatap Mackenyu. Namun senyumnya luntur seketika ia mengambil duduk di samping Mackenyu lalu menyentuh wajahnya.

“kau kenapa? Kau bertengkar dengan siapa? Kenapa sudut bibirmu terluka dan pipimu merah?” Minwoo benar, Yumi memang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Itu yang ada dipikiran Mackenyu saat ini ketika menatap wajah Yumi yang begitu dekat dengannya. “aku akan mengambil kotak obat dulu.” Yumi berniat beranjak untuk mengambil kotak obat namun tangannya dicegah oleh Mackenyu dan menariknya kembali duduk di kursinya.

“kenapa? Kau perlu mengobatinya, biar aku yang membantumu mengobatinya.” Kata Yumi. “apa kau akan tetap mengobati lukaku ini jika kau mengetahui sesuatu hal?” tanya Mackenyu lebih tepatnya bertanya pada dirinya sendiri, bukan pada Yumi. “apa maksutmu? Dengar, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, yang jelas aku akan selalu ada untukmu dan aku akan mengobatimu ketika kau terluka.” Jelas Yumi.

“Mengapa kau putus dengan Minwoo?” 1 pertanyaan yang membuat Yumi tertarik untuk menatap Mackenyu lebih lama. “luka ini, aku dapatkan kemarin. Aku bertengkar dengan Minwoo.” Jelas Mackenyu. “kenapa?” tanya Yumi dengan nada lirih.

“Bagaimana kau bisa tahu hubunganku dengan Minwoo? Aku tidak pernah mengatakannya kan kalau mantan pacarku itu Minwoo?” tanya Yumi dengan ragu – ragu. “apa karena itu kalian bertengkar?” imbuhnya.

“apa kau masih marah dengannya?” tanya Mackenyu. “hemm?” Yumi tidak mengerti maksut Mackenyu. “kau dulu sering mengumpati mantan pacarmu, dan kau benar – benar terlihat sangat marah dan kecewa ketika putus. Kau ingat?” canda Mackenyu.

“ahh, tentu saja aku mengingatnya. Aku kan bercerita padamu hampir setiap hari.” Balas Yumi sedikit kekehan juga. “kau masih marah padanya?” tanya Mackenyu lagi kembali ke topik awal. Yumi menundukkan kepalanya dan memainkan jemarinya sendiri. “Mungkin, sedikit? Aku juga tidak begitu mengerti. Yang jelas sudah tidak semarah dulu, aku hanya kecewa saja kenapa dia begitu ingin menyembunyikan hubungannya denganku. Apa berhubunganku itu sangat memalukan hingga ia bersikeras menyembunyikan dari orang – orang, termasuk padamu. Itulah yang dulu selalu aku pikirkan tapi pada akhirnya hubungan kami memang harus berakhir dengan kesibukan kami masing – masing. Saat itu dia fokus dengan sekolah kedokterannya dan aku sibuk mmpersiapkan diri untuk menggantikan posisi ayahku di perusahaan. Jika hubungan kami diteruskan juga tidak akan baik, kami jarang bertemu dan jarang berkomunikasi. Jika bertemu pasti akan bertengkar. Bukankah akan lelah jika hubungan seperti itu dilanjutkan?” Yumi kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Mackenyu seraya berusaha memperlihatkan senyum tipisnya.

“apa kau masih mencintainya? Bagaimana jika Minwoo juga masih mencintaimu? Bagaimana jika kalian ternyata masih saling mencintai? Apa kalian akan kembali bersama?” tanya Mackenyu dengan serius. “aku tidak tahu apa dia masih mencintaiku tidak, tapi…”

“dia masih menyukaimu, sangat. Dia tidak pernah berhenti menyukaimu.” Mackenyu segera memotong pembicaraan Yumi. Yumi menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Maafkan aku, aku lah yang seharusnya meminta maaf. Minwoo mengakhiri hubungan kalian karena aku. Dia tahu aku menyukaimu sejak lama, jadi dia menyembunyikan hubungan kalian agar aku tidak tahu. Dia tidak mau merusak pertemanan kami, maafkan aku Yumi.” Sesal Mackenyu dan menggenggam kedua tangan Yumi. Berharap Yumi memaafkannya dan tidak marah. Tapi jika pun Yumi marah padanya, itu wajar dan ia siap menerimanya.

“apa maksutmu?” tanya Yumi. “Minwoo rela mengakhiri hubungannya denganmu agar aku tidak sakit hati. Dan dia menyembunyikan hubunganmu dari orang – orang karena tidak mau aku tahu. Dia tidak mau bertengkar denganku, dia rela mengakhiri hubungannya karena merasa tidak tega menyakiti adiknya. Itu yang dia katakan kemarin padaku, maafkan aku sungguh aku minta maaf. Aku mendengar ceritamu setiap hari yang di campakkan oleh pacarmu, tapi ternyata aku lah penyebab kau dicampakkan olehnya.” Tangis Mackenyu pecah, airmatanya jatuh menetes ke tangannya yang saat ini masih menggenggam tangan Yumi dengan erat.

“Mack, itu tidak benar. Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri.” Yumi segera beralih menggenggam tangan Mackenyu untuk menenangkannya. Tangan Yumi pun dengan cepat mengusap air mata Mackenyu. Mackenyu menangkap tangan Yumi yang mengusap air matanya. “kau berhak marah padaku.” Ujarnya.

“tidak ada gunanya aku marah padamu Mack, jika benar dia memutuskanku karenamu. Aku akan bicarakan ini dengannya, ini tidak ada kaitannya denganmu. Dan harus kau ingat 1 hal, semua itu sudah berlalu dan semuanya juga sudah berubah. Aku dan Minwoo itu adalah masa lalu dan itu tidak akan berubah meskipun jika memang kami masih saling menyukai.”

Mackenyu menatap Yumi dengan diamnya. “itu adalah keputusannya meninggalkanku terlepas apapun alasannya, dan aku? Itu juga keputusanku menerima hal itu. Jalan kami sudah berbeda, prioritas kami sudah berbeda. Kami sudah tidak sejalan lagi, jadi meskipun kami masih mencintai, hubungan ini tidak bisa dilanjutkan kembali. Bahkan jika dia tidak memutuskanku dulu, hubungan ini juga akan tetap berakhir karena perbedaan prioritas kami. Jadi kumohon berhenti menyalahkan dirimu atas berakhirnya hubunganku dengan Minwoo.” Yumi mengusap pipi Mackenyu dengan penuh kasih sayang.

“Aku begitu egois, apa aku masih berhak untuk menyukaimu?” ujar Mackenyu dengan mata yang masih berkaca – kaca. Yumi juga berkaca – kaca, ia pun mengangguk dan segera memeluk Mackenyu. “tapi aku juga sudah menyakitimu, aku bermain dengan teman – temanku dan menyebabkanmu dalam masalah.” Ujar Mackenyu dalam pelukan Yumi. “kau tidak benar – benar menyakitiku, dan kau juga tidak ingin. Kau hanya melampiaskan amarahmu karena kami menyembunyikan masalah besar darimu.” Balas Yumi.

“eh, tapi ada 1 hal yang ingin kutanyakan dan ini sangat membuatku penasaran.” Yumi segera melepaskan pelukan dan menatap Mackenyu. “Kenapa sikapmu berubah tiba – tiba? Dan kau sering bermain dan menghabiskan waktu bersama teman – temanmu hingga muncul berita kau berselingkuh dariku? kau juga terlihat sangat marah denganku dan menghindariku? Kenapa?” tanya Yumi.

“Maafkan aku, kau ingat waktu kita memasak bersama dirumahmu? Kau menyuruhku mengambil ponselmu, tapi aku menemukan fotomu bersama Minwoo di laci, kalian terlihat sangat bahagia disana, dan difoto itu bertuliskan Anniversary 5th. Bagaimana aku tidak marah melihat hal itu?” jelas Mackenyu. “kenapa kau tidak menanyakannya padaku? Atau setidaknya membicarakan masalah ini denganku, bukannya menghilang dan menhindariku. Kau kekanak – kanakan sekali.” Gemas Yumi seraya menepuk pelan pipi Mackenyu hingga membuatnya meringis, “au, sakit.” Teriak Mackenyu yang membuat Yumi tertawa. “baiklah – baiklah, aku akan mengambil kotak obat dulu. Dan kita akan melanjutkannya setelahnya.” Yumi pun bangkit.

**

Kini Yumi fokus mengobati luka di wajah Mackenyu, sedangkan Mackenyu hanya bisa menatap wajah wanita didepannya ini. keadaan hening tidak membuat mereka canggung. “kenapa kau mau menerima tawaranku dulu untuk hubungan palsu ini?” tanya Mackenyu tiba – tiba, entahlah kenapa dipikirannya saat ini terlintas sebuah pertanyaan itu.

“apa kau ingin balas dendam dengan Minwoo dengan bertunangan denganku?” Imbuhnya lagi, Yumi malah tersenyum kecil yang membuat Mackenyu bertanya – tanya. “kenapa kau tersenyum?” tanya Mackenyu.

“tidak ada gunanya balas dendam Mack, jika kita hidup dalam penuh kedendaman kita tidak akan merasa tenang.” Jelas Yumi yang masih fokus mengoleskan salep di sudut bibir Mack. “lalu kenapa kau menerimanya? Kau tidak mungkin benar – benar menyukaiku kan?” tanya Mackenyu lagi.

“heemm, aku menerima tawaranmu karena saat itu kau begitu senang menawariku hubungan palsu ini. kau begitu bersemangat untuk membuatku bangkit kembali setelah putus. Kau yang memberiku harapan lagi, dan yang paling penting, kau selalu mendengarkanku ceritaku, kau bahkan tidak pernah bertanya siapa lelaki yang sudah memutuskanku, tapi kau dengan tulus selalu ada untukku. Bagaimana aku bisa menolak ajakan seseorang yang tulus sepertimu, meskipun aku tahu kalau ini hanyalah hubungan palsu. Tapi aku senang.” Yumi menutup salep itu dan memasukkan kembali ke kotak obat.

“karena aku melihat ketulusanmu yang ingin membantuku, itulah kenapa aku menerimanya.” Yumi menutup kotak obat itu lalu tersenyum menatap Mackenyu. “Minwoo belum tahu mengenai hubungan palsu ini, jika dia tahu mungkin wajahku lebih parah dari ini.” ujar Mackenyu. Yumi menatapnya seolah bertanya kenapa. “Jika kau bertemu dengannya dan ingin mengatakannya. Kau boleh mengatakannya kalau hubungan ini hanyalah sandiwara saja.” Imbuhnya.

**

FLASHBACK 1 (15 tahun yang lalu)

Minwoo ingin mengenalkan Mackenyu dengan seseorang. Mereka berdua menunggu seseorang itu di pantai. Yumi, adalah perempuan yang disukai Minwoo yang ingin dikenalkan kepada Mackenyu. Namun Minwoo belum berani mengatakannya kepada Mackenyu kalau Yumi adalah perempuan yang disukainya. Minwoo berniat memberitahu kalau Yumi sudah menerimanya nanti. Namun siapa sangka, setelah pertemuan pertama itu dan Yumi berpamitan pulang lebih dulu. Mackenyu berkata padanya bahwa Mackenyu menyukai perempuan itu, Mackenyu menyukai Yumi. Hal itu membuat Minwoo terkejut, terlebih beberapa hari kemudian Yumi menerima pernyataan cinta Minwoo yang sudah ia utarakan sebelum ia mengenalkan Yumi dengan Mackenyu. Disisi lain ia merasa senang karena cinta terbalaskan, namun disisi lain ia merasa sedih dan takut kalau Mackenyu mengetahui hubungannya dengan Yumi, Mackenyu akan memusuhinya. Namun 1 minggu kemudian Mackenyu pindah ke Amerika karena pekerjaan ayahnya. Hal itu membuat Minwoo merasa lega, namun ia tetap merasa harus berhati – hati, itulah kenapa ia meminta kepada untuk merahasiakan hubungan mereka dari siapapun. Tidak boleh ada yang tahu tentang hubungan mereka berdua.

FLASHBAKC 2 (10 tahun yang lalu)

5 tahun menjalani hubungan yang tersembunyi dengan Minwoo, membuat Yumi bertanya – tanya. Apakah benar Minwoo menyukainya? Sudah 5 tahun, sampai kapan mereka harus menyembunyikan hubungan mereka ini. Yumi pun merasa lelah. Dan sudah 3 bulan ini hubungan mereka sedikit renggang karena keterbatasan waktu bertemu dan komunikasi. Minwoo yang sedang sibuk mempersiapkan kuliah kedokterannya, sedangkan Yumi sendiri mempersiapkan diri di perusahaan ayahnya. Setelah berpikir dengan keras, akhirnya Yumi pun ingin menanyakan kejelasan hubungannya dengan Minwoo ketika bertemu. Namun siapa sangka ketika bertemu dengan Minwoo, ia menjadi bungkam karena Minwoo ingin mengakhiri hubungan mereka. Yumi tidak bertanya apa alasannya, dan ia pertanyaan yang sudah ia siapkan berhari – hari enggan keluar dari mulutnya. Yang Yumi ingat hanyalah, ia meneteskan airmata saat itu dan memberikan sebuah tamparan di pipi Minwoo sebelum pergi.

FLASHBACK 3 (8 tahun yang lalu)

Mackenyu kembali ke Jepang dan ia ingin menjadi seorang pembalap. Di Amerika, selain belajar di sekolah. Mackenyu menemukan impian barunya yaitu menjadi pembalap. Kadang ia bermain balapan bersama temannya di Amerika sana. Setelah selesai dengan sekolahnya, Mackenyu pamit kepada orangtuanya untuk kembali ke Jepang terlebih dahulu. Dan orangtuanya mengijinkannya karena mereka merasa Mackenyu sudah dewasa dan bisa manjaga diri.

Sesampainya di Jepang ia langsung menemui Minwoo di Rumah sakit, bukan karena sakit, tapi karena Minwoo sudah menjadi dokter disana, Minwoo berhasil menyelesaikan sekolah kedokterannya. Setelah Mackenyu pergi ke Amerika, hubungan mereka tetap terjalin seperti biasa, bahkan mereka sering bertelfon atau video call bersama Yumi juga terkadang. Namun lama – lama Yumi jadi tidak sering menerima telfon bersama.

Setelah menemui Minwoo, Mackenyu menghubungi Yumi dan mengajaknya bertemu. Pertemuan itu lama – lama menjadi sering dan darisitulah Yumi mulai terbuka dan berkata bahwa sebelumnya ia pernah punya hubungan seseorang yang tidak ingin hubungannya diketahui orang lain. Lama – lama Yumi merasa tenang ketika bercerita dengan Mackenyu. Dan Mackenyu juga merasa senang bisa mendengar cerita Yumi, karena disisi lain ia jadi bisa dekat dengan Yumi.

Suatu hari Mackenyu membuat debut pertamanya di perlombaan Balap Mobil, Yumi datang untuk menyemangatinya. Mackenyu sangat senang, meskipun ia sedikit sedih karena Minwoo tidak bisa datang karena jadwal di rumah sakitnya. Entah karena support dari Yumi atau memang kemampuannya Mackenyu yang membuatnya menang di lomba itu dan akhirnya membawa namanya semakin dikenal dan ia sering mengikuti di kejuaraan – kejuaraan lain.

Akhirya sebuah ide terlintas dibenaknya Maceknyu ketika namanya sudah dikenal banyak orang, ia ingin membuat mantan Yumi merasa kesal dan menyesal karena meninggalkan Yumi. Ia membuat penawaran kepada Yumi bahwa mereka akan pura – pura menjalin hubungan dengan begitu akan disiarkan di seluruh berita dan mantannya bisa melihatnya. Mungkin dengan melihat berita itu mantan Yumi akan menyesal.

Awalnya Yumi tertawa dengan ide itu dan ingin menolaknya, namun melihat semangat Mackenyu yang menggebu – gebu dan tulus membantunya, ia pun tidak berani menolaknya. Yumi akhirnya menerima tawaran Mackenyu itu.

Hubungan palsu yang dijalani Yumi dan Mackenyu tidak berpengaruh apapun pada keduanya. Mereka bahkan terlihat nyaman dan sangat senang menghabiskan waktu bersama. Sedqngkan Minwoo di seberang sana, mendengar berita dating Mackenyu dengan seorang perempuan yang tidak lain adalah Yumi. Ia melihat layar kaca dari ruangannya, wajahnya datar, tidak ada yang bisa membaca raut wajahnya. Ia hanya terus menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya mematikannya.

**

Minwoo berdiri di dekat kaca apartement nya menikmati pemandangannya seluruh kota dari apartement nya. Segelas kopi di tangan kanannya, sesekali ia menyeruput kopi itu di sela – sela lamunannya. TING

Hingga notif pesan dari ponselnya mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh ke meja dekat dirinya berdiri, dan menatap layar ponselnya yang menyala, menandakan ada pesan masuk.

**

Yumi dan Minwoo duduk berdampingan di bangku yang menghadap sungai. Di tengah – tengah mereka terdapat 2 cup coffee yang masih mengeluarkan asapnya di tengah dinginnya cuaca saat ini.

“Apa kau terluka? Apa kau sudah mengobatinya?” tanya Yumi menatap wajah Minwoo yang masih sedikit ada bekas pukulan. “kau tenang saja, aku ini seorang dokter. Aku bisa mengobatiku lukaku sendiri, kau tidak perlu khawatir.” Jawab Minwoo.

Yumi tersenyum kecil, “kau benar, kau bisa melakukannya sendiri.”balas Yumi yang membuat Minwoo menoleh menatapnya. “kau tahu, setelah kau masuk sekolah kedokteran. Kau benar – benar fokus hanya belajar, dan kau tidak punya waktu untukku. Tidak, kurasa bukan seperti itu. Aku, ingin membuatmu merasa nyaman, aku ingin ketika kau lelah dengan pendidikanmu kau akan datang padaku. Tapi aku salah, saat itu aku tidak tahu kalau kau sedang mengobati luka mu sendiri.”

“padahal aku hanya ingin menghiburmu ketika kau lelah, tapi tidak bisa. Alih – alih menghiburmu, bahkan untuk menghubungimu sangat sulit sekali. Aku tidak tahu sesulit apa saat itu yang sedang kau lalui, aku berusaha memahamimu dan menerimanya. Namun aku lelah, aku ingin berbagi semua hal denganmu, senang sedih aku ingin membagikannya denganmu. Tapi kau tidak ada. Bahkan alasan kau menyembunyikan hubungan denganku selama ini aku berusaha menerimanya tanpa banyak bertanya padamu walau sebenarnya aku ingin bertanya.”

Minwoo mengambil cup coffee nya dan menatap lurus ke sungai yang ada didepannya ini. “Jadi Mackenyu sudah mengatakannya padamu.” Katanya sebelum menyeruput kopinya. “terlepas apapun alasannya kau memutuskanku, hubungan ini memang sudah sepatutnya berakhir bukan?” tanya Yumi. Ia mengambil cup coffee nya dan mengangkatnya.

“hubungan kita yang sudah tidak sehangat dulu, sama seperti kopi ini. sudah menjadi dingin, dan akan semakin buruk jika tetap dilanjutkan.” Kata Yumi menatap cup coffee nya, Minwoo menatap sekilas cup coffee milik Yumi lalu beralih ke cup coffee nya sendiri. Benar, uap yang tadi masih mengepul kini sudah tidak ada, dan kopinya sudah dingin.

“kita sudah tidak sejalan lagi saat itu, kita sibuk dengan kegiatannya masing – masing yang membuat kita jarang bertemu dan berkomunikasi. Setiap kali aku ingin menghubungi atau bertemu denganmu tapi kau selalu tidak bisa karena sibuk dirumah sakit, aku begitu khawatir dengan keadaanmu karena kau sangat bekerja keras dan hampir tidak beristirahat. Namun apa dayaku ketika kau menolaknya, aku berusaha memahaminya, namun lama – lama aku juga merasa capek. Aku berpikir hanya aku yang berjuang sendiri disini, apakah aku bisa melanjutkan hubungan ini denganmu jika terus seperti ini?”

“itulah yang ku pikirkan saat itu. Hingga akhirnya kau mengajak bertemu hanya untuk mengakhiri hubungan. Tentu saja aku terkejut dan marah padamu hingga tidak berkata apa – apa lagi dan menamparmu.”

“meskipun sulit diterima awalnya, namun aku sadar. Mungkin itu keputusan yang baik untuk kita berdua. Daripada dilanjutkan tapi saling menyakiti, lebih baik berakhir bukan.” Yumi menoleh kearah Minwoo seraya tersenyum kecil.

Sedangkan Minwoo terdiam membalas tatapan Yumi beberapa detik sebelum kembali mengalihkan pandangannya kembali ke bantaran sungai. “waktu aku kecil, aku kehilangan adik laki – lakiku karena kecelakaan mobil. Dan dokter bisa menyelematkannya waktu itu, aku sangat terpukul setelah kematian adikku. Untuk itulah aku berniat menjadi dokter, aku ingin menyelamatkan nyawan orang – orang, agar tidak ada lagi yang menderita kehilangan orang yang disayangnya. Walau aku tahu, bahwa hanya Tuhan yang bisa mengatur hidup mati seseorang, tapi aku ingin berusaha untuk menyelematkan seseorang. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan Mackenyu, wajah dan kepribadiannya sangat mirip dengan adikku. Mack mengingatkanku dengan adikku yang sudah meninggal. Aku sangat menyayanginya, karena bagiku Mack adalah adikku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk membuatnya bahagia dan tidak akan menyakitinya, aku tidak ingin kehilangan adik untuk kedua kalinya.”

“jadi ketika Mack mengatakan dia menyukaimu, itu bagaikan sebuah pukulan keras untukku. Disisi lain aku menyukaimu, tapi aku juga tidak bisa menyakiti Mack. Karena itu aku memintamu untuk menyembunyikan hubungan kita dulu. Hingga aku mendengar kabar kalau Mack akan kembali dari Amerika tidak lama lagi, dan aku juga merasa tertekan dengan hubungan ini, aku sadar aku juga sudah melukaimu terlalu lama. Karena itu lah aku akhirnya melepaskanmu dengan berat hati.”

“aku berharap kau bisa menemukan laki – laki yang lebih baik dariku. Namun siapa sangka kau berakhir dengan Mack, awalnya aku senang karena Mack akan menjagamu karena dia sangat menyukaimu. Namun berita tentang Mack yang bermain di belakangmu membuat ku marah. Aku kesal dan ingin memukul Mack, tapi aku sadar, aku juga tidak ada bedanya dengannya.”

“Bahkan jika diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki masalah ini, aku juga merasa hubungan kita tidak akan bisa sama lagi.” Kata Minwoo.

“karena itu, mari tetap menjadi teman dan melanjutkan hidup kita masing – masing?” Minwoo mengangkat cup coffee nya mendekat ke arah Yumi, mengajak Yumi cheers. Yumi tersenyum mendengarnya, ia pun menempelkan cup coffee nya dan melakukan cheers dengan Minwoo.

“cheers” ucap keduanya dan tertawa bersama. “aih, kau akan datang kan minggu depan? Mack pasti sangat senang jika kau datang.” tanya Yumi. “tentu saja aku datang, aku kan dokternya.” Balas Minwoo.

**

Balapan mobil pun berlangsung sengit, Mackenyu yang tengah berjuang di medan balapannya, Yumi yang terlihat khawatir dan tegang di kursi penonton, sedangkan Minwoo mengawasinya dari salah satu tenda tim Mackenyu.

Akhirya setelah menempuh beberapa putaran dan melawan beberapa rintangannya yang dihadapinya, Mackenyu keluar sebagai pemanangnya. Ia begitu senang dan langsung diangkat lalu dilempar – lempar keatas oleh timnya, Yumi sangat senang dan melonjak kegirangan dari kursi penonton, lalu ia pun segera turun dan berlari mendatangi Mackenyu. Sedangkan Minwoo keluar dari tenda dan tersenyum bangga pada Mack, setelah diturunkan oleh timnya, Mack tersenyum berjalan kearah Minwoo. “kerja bagus, aku bangga padamu.” Minwoo mengangkat tangannya mengajak tos, namun Mackenyu malah memeluknya dengan erat. Minwoo terkejut awalnya namun ia tertawa dan membalas pelukan Mackenyu.

Beberapa detik kemudian, pelukan mereka terlepas dan Yumi datang dengan sebuket bunga sebagai ucapan selamat atas kemenangannya. “aku titipkan dia padamu, kau jaga baik – baik ya.” bisik Minwoo pada Mack setelah kedatangan Yumi. Yumi mendekat dengan sebuket bunga ditangannya. “kalau begitu aku pergi dulu ya.” Minwoo pun kembali ke tenda karena tidak mau mengganggu waktu kebersamaan Yumi dan Mackenyu.

Apakah Mackenyu dan Yumi sudah mengatakan kalau hubungan mereka palsu kepada Minwoo. Jawabannya adalah sudah. Di malam hari ketika Yumi bertemu dengan Minwoo, ia mengatakan kepada Minwoo juga kalau awalnya hubungan mereka itu palsu untuk membuat mantan Yumi kesal, itu ide Mackenyu. Namun Minwoo sadar, itu bukanlah sembarang ide. Minwoo yakin pasti Mackenyu tidak ingin Yumi terus – terusan bersedih. Dan Minwoo tahu betapa Mackenyu sangat menyukai Yumi, ia tidak mungkin menyakitinya. Karena dari dulu yang dibicarakan dan selalu ditanyakan Mackenyu ketika berpisah adalah tentang Yumi.

FLASHBACK

“Bolehkan aku bertanya padamu 1 hal Mack?” tanya Yumi saat ia selesai mengoleskan salep di wajah Mackenyu. “apa?” tanya balik Mackenyu. “apa kau benar menyukaiku?” lanjut Yumi yang membuat Mackenyu terdiam dan menatapnya lama. Lama tidak ada jawaban dari Mackenyu, Yumi merasa malu. “ah maafkan aku jika pertanyaan ini mengganggumu.” Ia berusaha mengalihkan pandangannya.

Mackenyu menggenggam tangan Yumi dengan hangat dan membuat Yumi menatapnya kembali. “aku menyukaimu, selalu dan akan seperti itu. Jadi, aku ingin mengakhiri hubungan palsu ini. Jung Yumi, maukah kau benar – benar menjadi pasanganku yang sesungguhnya?”

Mata Yumi berkedip beberapa saat dan jantungnya tiba – tiba berdetak sangat cepat. “jika kau mau memberiku kesempatan, mari kita mulai hubungan ini dengan serius.” Ujar Mackenyu dengan serius dan sangat tulus. Hal itu membuat jantung Yumi berdetak tidak karuan dan semakin mengedipkan matanya beberapa kali.

 “Selamat Mack, aku yakin kau bisa memenangkan ini.” yumi tersenyum dan mengulurkan tangannya memberikan buket bunganya kepada Mackenyu. Mackenyu menerimanya dengan senang hati. “ah, aku melupakan topiku di mobil, bisakah kau membantuku mengambilnya, ya?” pinta Mackenyu. “jadi topi itu lebih penting dari buket ini.” kesal Yumi, meskipun begitu ia tetap berjalan kemobil yang digunakan Mackenyu balapan tadi. Ia membuka pintu dan mencari topi yang dimaksud Mackenyu namun tidak menemukannya. Ia pun membuka dashbor dan menemukan sebuah kotak hitam kecil.

Yumi mengambilnya dan membukanya, sebuah cincin berlian yang sangat cantik. Yumi tersenyum melihatnya, ia merasa sangat senang. Ia hendak keluar dari mobil, namun Mackenyu sudah berlutut di sampingnya, “Jung Yumi, maukah kau menikah denganku?”

Mackenyu berlutut dengan menyodorkan buket bunga pemberian dari Yumi tadi. Yumi pun tertawa melihatnya, ia pun membungkuk dan memeluk Mackenyu. Setelah itu, Mackenyu memasangkan cincin ke jari manis Yumi dan disaksikan oleh timnya, termasuk Minwoo. Hari ini menjadi hari bersejarah bagi Mackenyu, selain kemenangan kejuaraan balap mobil, ia juga berhasil memenangkan hati Yumi dan kembali berbaikan dengan Minwoo.

“Beberapa cerita yang berakhir memang tidak bisa diulang kembali, meskipun ada kesempatan kedua. CAUSE  EVERYTHING HAS CHANGE.”

The END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar