Senin, 09 Juni 2025

AS WARM AS A CUP OF COFFEE

 



CAST :

JUNG YUMI

MACKENYU ARATA

NO MINWOO as teman yumi

SUHYUN as pacar minwoo

KIM HYUNJOONG as teman yumi

AHYOUNG as pacar hyunjong

STELLA as teman yumi

KIM TAEYEON as teman yumi

CHO KYUHYUN as pacar taeyeon

 

SEHANGAT SECANGKIR KOPI

 “Yumi – aa, ada yang ingin kubicarakann denganmu. Bisa ikut aku sebentar?” tanya seorang wanita kepada Yumi yang kini masih sibuk dengan berkas dan layar komputernya. Sontak wanita yang dipanggil Yumi tadi menghentikan aktivitasnya dan menatap teman kerjanya itu.

**

Yumi dan Inha kini berdiri di atap gedung tempat kerja mereka. Mereka berdiri di tepi pembatas dan menatap pemandangan dari atas gedung. “Ahh segarnya, kantukku jadi sedikit berkurang. Gomawo inha – aa sudah mengajakku kemari.” Yumi tersenyum sambil menutup matanya dan menghirup udara yang segar dari atas gedung.

Inha, teman Yumi menatap Yumi dengan tatapan yang sulit diartikan. “Yumi – aa!” panggil Inha kepada Yumi. “Wae? Marhae! Aku bisa mendengar suaramu, tenang saja.” Jawab Yumi santai dan masih menikmati moment santainya.

“Aku serius Yumi!” kali ini ekspresi Inha tampak sedikit jengah dengan Yumi yang tidak begitu mempedulikannya. Senyum Yumi perlahan hilang dan membuka matanya, lalu menatap temannya itu. “geurae, mwonde? Apa yang ingin kau katakan sampai membawaku kemari? Sebesar apa masalahmu?” tanya Yumi dengan perhatian.

“ini bukan masalahku, tapi kamu.” Jawab Inha langsung. “naega wae?” tanya Yumi tidak mengerti. “kau harus menjauhi Yoohan dan Haejin.” Jawaban Inha membuat Yumi menatap Inha dengan penuh tanda tanya.

“kenapa aku harus menjauhi mereka? lagi pula aku tidak begitu dekat dengan mereka berdua. Wae?” tanya Yumi penasaran. “istri Yoohan cemburu denganmu. Ketika team kita makan malam beberapa hari yang lalu, ada yang melihatmu dan Yoohan berdiri di luar resto berdua. Orang itu memberitahukan hal tersebut ke istri Yoohan. Jadi dia sangat membencimu, dia tidak suka kau dekat – dekat dengan Yoohan, suaminya.” Jelas Inha yang membuat Yumi terdiam sejenak.

“sebentar, kita kan makan bersama satu team. Bukan aku dan yoohan saja, dan lagi pula waktu itu aku sedang membicarakan projek baru kita dengan Yoohan yang ada di Jepang itu. Itu saja, tidak lebih dan tidak ada yang lain.” Jelas Yumi kepada Inha, meyakinkan Inha kalau itu memang benar.

“Aku tahu Yumi, kau hanya membicarakan pekerjaan saja tidak lebih. Tapi orang lain tidak berpikir seperti itu.” Balas Inha. “Apa istri Yoohan yang tidak percaya?” tanya Yumi dengan hati – hati.

“karena istri Yoohan tidak percaya, dia membuat berita yang buruk tentangmu. Bahkan dia berhasil meracuni pacar Haejin agar ikut membencimu. Dan semua orang di kantor saat ini sedang membicarakan ini, Yumi!” jelas Inha yang terlihat kesal.

**

Yumi kembali melanjutkan pekerjaannya setelah pertemuan dengan Inha di atap tadi siang. Walau pikirannya jadi kacau dan tidak fokus, tapi Yumi tetap berusaha tenang dan seolah – olah tidak terjadi apa – apa. Selesai dengan pekerjaannya, Yumi bersiap – siap pulang. Namun ia merasa kurang nyaman saat berjalan di lorong – lorong karena beberapa orang menatapnya dan berbisik – bisik tentangnya bahkan di dalam lift pun ia bisa mendengar bisikan itu.

Pintu lift terbuka, Yumi segera pergi dan meninggalkan gedung tempatnya bekerja. Udara dingin segera menyapanya ketika keluar dari gedung. Ia mengeratkan setelannya dan berjalan menuju kontrakannya. Sesekali ia berhenti dan mencoba menarik nafas panjang seraya menatap langit yang tidak berbintang lalu kembali berjalan.

**

Yumi dan teman – teman sekolahnya dulu kini tengah berkumpul di sebuah restoran untuk makan bersama. Ini kerap dilakukan oleh geng Yumi sejak SMA dulu. Dan setelah lulus, mereka jarang bertemu tapi sesekali berkumpul untuk makan bersama seperti saat ini.

“ah Yumi, kenalkan ini Suhyun pacar Minwoo, ini Ahyoung pacar Hyunjoong.” Ujar Stella memperkenalkan pacar Minwoo dan pacar hyunjoong kepada Yumi, karena memang ini pertama kalinya Yumi bertemu dengan mereka.

“Jung Yumi”

“Suhyun”

“Ahyoung”

Mereka saling berkenalan dan tersenyum. Suhyun tampak semakin mendekat kearah Minwoo dan hal itu diketahui oleh Stella yang sontak langsung tertawa. “waeirae? Kau tertawa seperti itu tiba – tiba.” Yumi heran dengan Stella. “Kau tahu Yumi – aa, dia ini sangat takut denganmu, ani lebih tepatnya cemburu denganmu.” Tawa Stella memenuhi ruangan itu.

“Stella, kenapa kau bilang seperti itu, aku jadi merasa malu.” Lirih Suhyun. Yumi terdiam mendengarnya. “Yah, tidak heran. Dari SMA dulu Yumi memang paling cantik, banyak yang suka padanya. Hyunjoong saja sering menggodanya, bahkan para hoobae pun banyak yang tertarik dengannya.” Puji Stella yang membuat Suhyun diam dan menatap Yumi.

Sadar akan tatapan Suhyun Yumi pun bersuara. “aih, mworae. Itu tidak benar, lagi pula itu kejadian waktu SMA. Sudah lama, kenapa kau mengungkitnya.” Sanggah Yumi. “Aku takjub denganmu Yumi – aa, dari SMA dulu meskipun banyak yang jatuh hati denganmu tapi kau tetap teguh pada pendirianmu dan tidak goyah. Aku yakin kau akan dapat laki – laki yang baik nanti.” Ujar Hyunjoong. “eih benar, Suhyun itu sebenarnya sempat cemburu denganmu dulu karena Minwoo pernah dekat denganmu. Lihatlah, dia terus menempel pada Minwoo dan tidak melepas tangannya dari Minwoo. Haha.” Lagi, ucapan Stella membuat Yumi diam dan menatap kearah Minwoo dan Suhyun.

“Aniya Suhyun – aa, kau tidak perlu khawatir. Itu tidak benar. Kami semua berteman disini, jadi jangan diambil hati ya ucapan Stella tadi.” Ujar Yumi berusaha meredam isi kepala Suhyun yang terbaca oleh Yumi. “geurae, itu tidak benar. Lagi pula kita sudah berteman sejak SMA, jadi tentu saja dekat satu sama lain. Kau tidak usah khawatir, aku kan sudah mempunyaimu.” Kini giliran Minwoo yang menenangkan Suhyun.

“kurasa cukup bicaranya, bukankah saatnya kita makan?” ujar Ahyoung. “kau benar, khajja kita makan. Jalmogoseumnida.” Ujar Stella diikuti yang lainnya dan mulai menyantap makanannya.

**

Di kontrakannya, Yumi menatap fotonya bersama kakeknya yang sudah meninggal 5 tahun lalu. Ia menatap foto kakeknya yang sangat ia rindukan kehadirannya. Air mata menetes jatuh di pigura foto itu, perlahan tangan Yumi yang memegang pigura itu bergetar dan tampak mencengkeram pigura dengan keras seolah mencari kekuatan.

Namun tidak berhasil ia dapatkan, ia pun hanya bisa menangis. “harabeoji, bogoshipeo. Jinjja bogoshipeoso.” Yumi pun hanya bisa menangis dan memeluk foto kakeknya itu.

**

Beberapa hari kemudian, Yumi menjalani hari – harinya seperti biasa. Dan hari ini, selesai dengan pekerjaannya. Team Yumi akan mengadakan makan malam untuk merayakan keberhasilan projek yang Yumi ajukan.

“Ah mian, kurasa aku tidak bisa ikut.” Tolak Yumi dengan halus. “wae? ini kan project mu? Ini untuk merayakan keberhasilanmu, kalau kau tidak ikut, makan malam ini tidak akan ada artinya.” Sahut Inha. Yumi menatap beberapa rekan kerjanya, mulai dari Inha, Yoohan, Haejin dan yang lainnya. “mian, aku benar – benar tidak bisa.” Yumi pun pergi meninggalkan semua rekannya itu.

Yoohan merasa bersalah, Yumi pasti menghindar karena ulah istrinya itu yang menyebarkan berita tentang Yumi dan menghasut pacar Haejin untuk ikut membenci Yumi. Inha seperti nya mulai paham alasan Yumi menolak, ia pun segera berujar “aih, eotteokhae? Apa kita lanjut makan malam tanpa Yumi atau batal?” kata Inha dan menatap rekan kerjanya bergantian. “Khajja, kita makan. Aku lapar.” Balas Yoohan lalu beranjak dan diikuti yang lainnya.

**

“Taeyeon – aa.” Yumi memeluk sahabatnya dengan erat hingga membuat Taeyeon sulit bernafas. “Ya! waegeurae eonni? Aku tidak bisa bernafas tahu, longgarkan pelukanmu itu.” Taeyeon berusaha melepaskan pelukan Yumi tapi tidak bisa, yang ada Yumi malah mempereratnya hingga membuat Taeyeon bertanya – tanya, seperti terjadi sesuatu dengannya.

**

Taeyeon datang dan meletakkan secangkir coklat di atas meja. Yumi menatapnya dan tersenyum, “gomawo uri dongsaeng – ie.” Yumi mengambil cangkir itu dan mengerutkan keningnya. “ini bukan kopi?” tanya Yumi heran.

“ini sudah malam, kalau kau minum kopi kau akan kesulitan tidur. Coklat hangat ini lebih dari kopi, itu bisa membuat pikiran eonni lebih rilex.” Jelas Taeyeon. “geurae?” tanya nya seraya mencium aromanya terlebih dahulu sebelum mencobanya.

“kau benar Taeng, gomawo.” Ujar Yumi. Taeyeon menatap Yumi dengan seksama. “marhae, bukankah ada yang ingin kau ceritakan padaku? Mwondae?” tanya Taeyeon langsung. Senyum di wajah Yumi perlahan menghilang dan dia menggigit bibirnya untuk berpikir dan bersiap bercerita kepada Taeyeon.

Akhirnya Yumi pun menceritakan pertemuannya dengan teman – teman SMA nya di restoren beberapa hari yang lalu. Taeyeon jadi merasa iba dengan seonbae nya itu dan kesal juga dengan teman – teman seonbae nya itu.

“Ya! kenapa mereka membahas kejadian lama? Itu sudah 10 tahun yang lalu, dan lagi pula itu tidak benar. Aku tahu itu, kau tidak hanya dekat dengan Minwoo ataupun Hyunjoong saja, kau dekat dengan semuanya. Kau juga bukanlah wanita yang akan merebut laki – laki orang. Kenapa mereka seperti itu padamu, apa benar itu namanya teman?” kesal Taeyeon.

“itu menurutmu Taeng, tapi menurut orang lain bisa saja tidak seperti itu.” Yumi tampak menundukkan kepalanya. Taeyeon menghela nafasnya. “eonnie, dengarkan aku.” Taeyeon memegang pundak Yumi dan membuat Yumi mendongak menatapnya.

“yeppeoseo, karena kau cantik dan hatimu sangat baik, itulah yang membuat kecantikanmu terpancar dan membuat orang – orang jadi menyukaimu. Itu bukan salahmu kalau mereka suka padamu. Toh dari sekian banyak orang yang menyukaimu, tidak ada satu pun kan yang berhasil mengambil hatimu? Jadi tuduhan mereka yang mengatakan kalau wanita perebut laki – laki orang itu tidak benar. Mereka hanya iri saja padamu eonnie.” Taeyeon berusaha sekuat tenaga untuk menghibur kakak seniornya semasa di SMA dulu.

“benarkah itu? Ini bukan salahku?” mata Yumi tampak berkaca – kaca menatap Taeyeon. “emm, mereka yang salah, bukan eonnie.” Jawab Taeyeon yang ikut berkaca – kaca juga. “aku benar – benar tidak punya perasaan kepada mereka, aku hanya berteman baik dengan mereka, aku menganggap mereka teman, tidak lebih. Aku juga tidak punya pikiran untuk menganggap mereka lebih dari teman.” Ujar Yumi disertai isak tangis yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.

“aku takut kakekku akan kecewa jika mendengar berita ini Taeng..” menyebut kakeknya, tangis Yumi semakin menjadi. Taeyeon pun segera memeluk Yumi dengan erat dan ikut menangis bersamanya. Taeyeon terlihat mengelus punggung Yumi agar Yumi merasa lebih baik meskipun saat ini masih menangis terisak.

**

Keesokan paginya, Yumi membuka matanya dan menghela nafasnya. “kurasa aku terlalu banyak menangis semalam, mataku pasti bengkak. Aihh ” ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan segera mencuci wajahnya lalu membuat secangkir kopi.

Selesai membuat kopi dan roti panggang, Yumi duduk diluar kontrakannya untuk menikmati angin pagi dan hangat sinar matahari sembari menikmati kopi dan roti panggangnya. “emm, hangat.” Yumi tersenyum menghirup aroma dari secangkir kopi yang ia buat.

Setelah menikmati roti dan kopinya, Yumi kembali melamun.

FLASHBACK

“Kyuhyun Oppa melamarku minggu lalu, kami akan menikah bulan depan eonni.” Kata Taeyeon setelah Yumi selesai dengan semua ceritanya. “geurae? Hwahh, chukkae. Akhirnya penantianmu selama ini tercapai. Aku benar – benar ikut senang mendengarnya.” Yumi tampak kembali bersemangat mendengar berita pernikahan Taeyeon.

“eonnie apa aku minta tolong saja ya ke Kyuhyun oppa?” tanya Taeyeon tiba – tiba antusias. “minta tolong apa?” Yumi tidak mengerti maksud Taeyeon. “Kyuhyun oppa kan punya banyak teman dan senior juga. Mungkin saja, dia bisa mengenalkanmu dengan mereka.” perkataan Taeyeon barusan membuat Yumi menatapnya. “wae? apa aku salah?” tanya Taeyeon khawatir Yumi tersinggung.

Namun Yumi malah tertawa, “kau tidak perlu seperti itu, itu bukan tanggungjawabmu untuk mencarikanku pasangan Taeyeon – aa, kau tidak perlu mengkhawatirkanku.” Tawa Yumi pecah seketika.

“kau bisa tertawa setelah menangis tersedu – sedu tadi.” Cibir Taeyeon. “Ani, aku hanya mengkhawatirkanmu eonni, jika kau datang ke pernikahanku dengan seorang namja mereka pasti tidak akan mencibirmu lagi dan tidak akan menggosipkanmu yang bukan – bukan lagi.” Kesal Taeyeon.

“Dan aku juga merasa bersalah karena menikah lebih dulu meninggalkanmu.” Imbuhnya dengan menundukkan kepalanya. Yumi menggenggam tangan Taeyeon, “Taeyeon – aa, dengarkan aku.” Ujar Yumi namun Taeyeon tak kunjung mengangkat kepalanya. Yumi pun memegang pundaknya. “tatap aku Taeng..” pinta Yumi dengan lembut, Taeyeon pun mengangkat kepalanya dengan perlahan dan terlihat airmata sudah menggenang di kedua matanya.

“Na gwenchanna, aku sangat senang dengan berita pernikahanmu itu dan aku merasa tidak ditinggalkan. Sungguh, aku tidak peduli dengan perkataan mereka nanti. Yang ku pedulikan adalah kamu, kamu harus tampil cantik saat pernikahan nanti. Emm, kau tidak boleh bersedih apalagi menangis nanti, kau terlihat jelek saat menangis, sungguh.” Ujar Yumi diselingi candaan diakhir yang membuat Taeyeon terkekeh kecil berbarengan dengan airmatanya menetes dan segera diseka olehnya.

“aku tidak mau memacari orang lain hanya untuk menutupi tentang masalahku Taeng. Itu tidak adil. Aku akan mencari seseorang ketika aku benar – benar siap membuka hatiku, bukan karena orang lain.” Imbuh Yumi lagi.

“tapi nanti kau keburu tua eonnie.” Ujar Taeyeon dengan niat bercanda. “YA! Kau mengataiku barusan ya?” Yumi pura – pura kesal dan segera merangkul kepala Taeyeon dengan erat di ketiaknya. Taeyeon pun mencoba menghindar tapi rangkulan Yumi begitu kuat, dan mereka pun sama – sama tertawa.

FLASHBACK OFF

“huft, dia benar. Aku semakin tua, di usiaku yang sekarang seharusnya aku sudah menikah. Aih, apa yang ku pikirkan, punya pacar saja tidak kenapa memikirkan pernikahan. Aigoo, Yumi jeongsijaryo!” yumi mengacak – acak rambutnya dengan gusar.

**

Taeyeon begitu cantik mengenakan gaun pengantin dan berjalan di altar. Kyuhyun juga terlihat tampan dan tersenyum menatap Taeyeon yang begitu cantik di matanya. Mereka berdua mengucapkan janji pernikahan dan disaksikan oleh para undangan termasuk Yumi dan teman – temannya.

**

Yumi mengambil minuman di salah satu meja ketika Taeyeon sibuk dengan para tamu undangan. “Yumi – ssi, bisa bicara sebentar?” Yumi menoleh dan mendapati Suhyun menatapnya. Selesai meminum sedikit minuman yang ia ambil, Yumi meletakkan kembali gelasnya di meja. “Ada apa Suhyun – ssi?” tanya Yumi. “Bisakah kita keluar sebentar? Aku kurang nyaman berbicara disini.” Ujar Suhyun. Yumi pun menggangguk dan mengikuti arah perginya Suhyun.

**

Kini Yumi dan Suhyun sudah diluar ruangan resepsi dan Suhyun memilih di salah satu lorong yang tampak sepi dari lalu lalang orang. Yumi tersenyum tipis menatap Suhyun seolah bertanya apa yang ingin dibicarakan Suhyun padanya.

“kurasa kau tahu maksutku mengajakku kesini.” Kata Suhyun mengawali pembicaraan. “emm ne? Ani, bisakah kau jelaskan lebih detail? Maksutku bisa kau jelaskan lebih dulu permasalahannya? Aku tidak mengerti.” Jawab Yumi yang memang tidak tahu maksut Suhyun.

“ini tentang Minwoo.” Mendengar nama Minwoo, Yumi akhirnya paham arah pembicaraan Suhyun. “tto? Apa kau masih mencurigaiku kalau aku akan merebut Minwoo darimu? Apa kau masih cemburu padaku?” tanya Yumi dengan kecewa.

“bukan masih, tapi aku akan selalu cemburu jika itu adalah kamu Yumi – ssi.” Balas Suhyun yang membuat Yumi menggigit bibirnya dan menghela nafasnya dengan kasar. “Suhyun – ssi harus berapa kali ku jelaskan padamu. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Minwoo, aku hanya menganggapnya sebagai teman tidak lebih. Kami semua berteman, Aku, Stella, Hyunjoong dan Minwoo, begitu juga denganmu dan Ahyoung.” Jelas Yumi berusaha meyakinkan Suhyun.

“Aku tahu aku begitu egois Yumi – ssi, aku tidak seharusnya melarang Minwoo oppa berteman dengan siapa saja. Tapi entah kenapa jika itu kamu, aku merasa tidak suka. Karena dulu Minwoo oppa pernah bercerita kalau dia punya perasaan padamu. Jadi aku benar – benar takut..” lirih Suhyun dengan mata yang sudah berkaca – kaca.

Yumi diam dan menatap Suhyun yang berusaha keras menahan airmatanya. Yumi yang gusar dan kesal pun akhirnya bersuara. “apa yang harus ku lakukan, agar membuatmu tidak khawatir lagi?” tanya Yumi yang membuat Suhyun mendongak menatapnya. “bisakah kau menjauh dari Minwoo oppa?” permintaan Suhyun tidak begitu sulit bagi Yumi, tapi Yumi takut akan kesepian jika harus menjauh dari teman – temannya, apalagi Taeyeon sudah menikah. Pasti tidak banyak temannya nanti. “Baiklah, jika itu membuatmu tenang. Akan aku lakukan.” Jawab Yumi setelah beberapa saat berpikir dengan keras.

**

Yumi kembali ke aula setelah berbicara dengan Suhyun tadi. Suhyun lebih dulu pergi agar tidak ada yang tahu, dan Yumi memilih untuk masuk aula setelah beberapa menit. Ia melihat teman – temannya yang asyik bercengkerama dan tertawa satu sama lain. Hyunjoong dan pacarnya, Stell, Minwoo dan Suhyun yang kini menatapnya. Yumi tersenyum tipis lalu memilih menghampiri Taeyeon yang tengah mengobrol dengan Kyuhyun di sudut ruangan.

“Eonni, kau kemana saja? Aku mencarimu daritadi.” Ujar Taeyeon ketika melihata Yumi menghampirinya. “maafkan aku, tadi ada sedikit masalah jadi aku keluar sebentar.” Ujar Yumi. “Masalah apa?” tanya Kyuhyun. “ah, apa ini tentang proyekmu yang di Jepang?” tanya Taeyeon antusias. “eooh.. kau benar.” Bohong Yumi. “lalu apa kau akan pergi ke Jepang jika kesempatan itu ada?” tanya Taeyeon lagi. “haruskah?” tanya Yumi ragu – ragu. “eih, tentu saja kau harus pergi noona. Carilah pengalaman baru disana, dan mungkin kau akan bertemu temann baru disana.” Jelas Kyuhyun. “emm, Kyuhyun oppa benar. Kau harus pergi eonni.” Kata Taeyeon meyakinkan. Yumi tersenyum kearah Taeyeon dan Kyuhyun. “geurae? Kalau begitu aku harus pergi jika kalian berkata seperti itu. Hehe.” Kekeh Yumi.

**

Beberapa hari kemudian Yumi melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, bekerja. Saat jam makan siang, Yumi berencana mencari makan diluar. Namun siapa sangka, ketika ia berjalan di lorong lantai 1. Tiba – tiba wajahnya basah. Seseorang telah menyiramnya dengan es kopi. Yumi dan beberapa orang disana terkejut. Yumi mencoba membuka matanya perlahan lalu melihat siapa yang menyiramnya.

“Kau memang wanita penggoda ya, dasar murahan! Tidak cukup suamiku, kau juga mengambil pacar teman sendirimu. Dasar!” bentak orang itu yang tidak lain adalah istri Yoohan. “chogio, apa kau punya bukti kalau aku menggoda suamimu dan merebut pacar temanku?” kesal Yumi. “aku melihatmu kemarin di gedung pernikahan. Temanmu bahkan meminta padamu untuk menjauhi pacarnya. Apa itu tidak cukup? Ah, suamiku juga tidak pulang. Kau bawa kemana dia?” desak istri Yoohan.

Yumi tidak bisa berkata – kata, ia hendak berucap tapi ia melihat beberapa orang disekelilingnya mulai mencibirnya. Ia pun memilih bungkam hingga tiba – tiba Yoohan datang dan segera menyeret istrinya keluar.

**

Yumi kini makan sendirian di dekat pusara kakeknya. Ia membawa 2 bungkus makanan, 1 untuk ia makan, 1 nya lagi untuk kakeknya. Tidak lupa juga kopinya. Yumi makan dengan perlahan dan sesekali menatap pusara kakeknya.

“sepertinya lambungku belakangan ini kurang baik harabeoji, aku juga kurang berselara makan karena itulah aku kesini untuk mengajakmu makan. Karena kau tidak pernah mengunjungi cucumu ini, setidaknya kau harus menemaninya makan hari ini sebelum cucumu ini pergi ke Jepang lusa.”

Diam dan meletakkan sendoknya di kotak makan. Yumi menunduk. Samar – samar terdengar isakan dan terlihat bahu Yumi mulai bergetar. Pelan tapi pasti getaran di tubuh Yumi semakin menjadi dan isakannya semakin terdengar jelas. Yumi menangis didekat pusara kakeknya.

“apa salahku harabeoji? Kenapa semua orang mencurigaiku? Kenapa orang – orang berpikir kalau aku itu wanita perebut laki – laki orang. Kenapa? Aku tidak seperti itu harabeoji, kenapa?”

“apa wajahku ini memang wajah penggoda? Aku bahkan belum pernah merasakan jatuh cinta dan pacaran. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka memperlakukanku seperti  itu? Kenapa mereka kejam padaku harabeoji?”

Ujar Yumi terbata - bata dengan sesenggukan dan tidak bisa mengontrol pikirannya serta airmatanya. “kenapa kau diam saja? Apa tidak ada yang ingin kau katakan untuk menghiburku?” Yumi menatap penuh harap ke arah pusara kakeknya. Airmatanya yang terus mengalir, Yumi pun berusaha menghapusnya walaupun tetap saja mengalir lagi. “kau tidak memberiku pelukan?” imbuhnya. Nihil, seperti orang gila. Yumi terus berbicara sendiri di pusara kakeknya yang dia sendiri tahu kalau tidak akan ada jawaban pastinya. Merasa putus asa, Yumi pun memilih menyenderkan kepalanya di pusara kakeknya.

**

Setelah merasa cukup dengan sesi curhatnya di pusara sang kakek. Yumi memutuskan pulang dan mampir ke apotik terdekat untuk membeli obat asam lambung. Di jalan, ia bertemu anak kecil yang bermain sendiri di ayunan. Ia tersenyum dan menghampiri anak itu.

“ya! apa kau sudah makan? Aku mempunyai 1 kotak nasi yang masih utuh, apa kau mau?” Yumi menawari dengan wajah tulus dan senyumnya yang mengembang. Anak kecil itu pun menggangguk dengan senang. Yumi memberikan kotak nasi milik kakeknya tadi kepada anak kecil itu. “Ja, makanlah supaya kau bisa cepat tumbuh besar.” Yumi mengelus rambut anak itu. “gomapseumnida.” Ujar anak itu. Yumi tersenyum melihat respon anak itu, ia pun kembali bangkit dan mencari apotik terdekat.

Setelah berjalan cukup lama di area itu, akhirnya Yumi menemukan apotik yang ia cari. “Eoseooseyo, apa ada yang bisa ku bantu?” sapa pemilik apotik yang tetlihat menata beberapa obat di rak. Yumi berjalan perlahan dan mendekati meja kasir. “tolong obat asam lambungnya.” Ujar Yumi.

Pemilik apotik itu menghentikan aktivitasnya dan menoleh. Mata Yumi membulat melihat pemilik apotik itu. “Minwoo – ssi, apa yang kau lakukan disini? Kau tidak bekerja?’ heran Yumi, harusnya Minwoo ada dirumah sakit, kenapa ia malah di apotik. “aku sedang libur. hari ini adalah hari liburku, dan aku membantu kedua orangtuaku disini, mereka sedang ada keperluan. Jadi aku menggantikan mereka.” Jelas Minwoo sambil membungkus obat yang dipesan Yumi tadi.

“Ah jadi orangtuamu tinggal disini.” Lirih Yumi. Keduanya pun salin diam dan keadaan menjadi kaku. Minwoo pun menangkap pemandangan yang membuatnya tertarik. Ia melihat Yumi membawa cup coffe.

“apa obat ini untukmu?” tanya Minwoo. “emm, belakangan ini lambungku kurang baik.” Jawab Yumi. “kau membeli obat asam lambung, tapi kau minum kopi? Heh, percuma saja. Itu akan memperburuk asam lambungmu.” Jelas Minwoo.

“Ani, aku tidak meminumnya, ini masih utuh. Apa kau mau? Jika dibuang akan sangat sayang.” Yumi menyodorkan cup coffe itu kearah Minwoo. “lalu untuk apa kau membelinya jika kau tidak meminumnya?” tanya Minwoo tidak percaya.

“aku hanya suka saja, kehangatan dari se cup coffe dan aromanya. Biasanya aku sering minum coffe, tapi ketika lambungku tidak baik – baik saja, aku tidak bisa meminumnya.” Jelas Yumi. Minwoo mengambil cup coffe itu dan menyerahkan bungkusan obat kepada Yumi.

Yumi tersenyum melihat Minwoo mengambil cup coffe itu. “anggap saja itu sebagai hadiah perpisahan.” Ujar Yumi yang membuat Minwoo terkejut, hal itu terlihat dari sorot mata Minwoo yang membulat dan menatap tajam kearah Yumi. “aku akan pergi ke Jepang untuk menyelesaikan projekku, lusa.” Jawab Yumi  yang paham maksut tatapan Minwoo padanya. “kalau begitu aku pergi, terimakasih.” Yumi pun meninggalkan Minwoo yang masih terdiam ditempatnya menatap cup coffee ditangannya.

“dingin, sama seperti sikapmu padaku.” Ujar Minwoo merasakan cup coffee itu yang sudah dingin, dan tidak merasakan lagi kehangatannya. Ia pun menoleh keluar dan tidak mendapati Yumi, ia sudah berlalu dari hadapan Minwoo.

FLASHBACK ON

Hari kelulusan saat SMA

Yumi memasuki gedung olahraga dan mencari Minwoo. “Minwoo – ssi, eodieyo?” panggil Yumi dan celingukan mencari keberadaan Minwoo, ia menerima pesan dari Minwoo kalau ada yang ingin Minwoo sampaikan. Jadi ia mendatangi gedung olahraga, tampat yang ditunjuk Minwoo.

“Minwoo – ssi..” panggil Yumi lagi, namun nihil. Tidak ada jawaban. Ia pun meraih ponsel di sakunya dan menelpon Minwoo. Terdengar dering ponsel, Yumi bisa mendengar dering ponsel Minwoo, ia pun menoleh kebelakang dan melihat Minwoo berdiri didepanya dengan jarak beberapa langkah. Yumi tersenyum lalu mematikan kembali ponselnya.

“Ya! aku mencarimu daritadi, kau baru datang? Apa yang ingin katakan?” tanya Yumi yang masih berdiri di tempatnya. Ia melihat wajah Minwoo yang begitu serius. “wae? apa ada masalah yang serius?” tanya Yumi penasaran. Detik berikutnya ia melihat Minwoo berjalan menghampirinya dan dengan cepat memeluknya dengan erat.

Yumi cukup terkejut dengan tindakan Minwoo yang tiba – tiba. “Minwoo – aa, waeirae?” tanya Yumi sedikit takut dan cemas. “johae”

Satu kata yang butuh waktu beberapa menit untuk dicerna otak Yumi. “johahandago, naega. Jung Yumi Johae.” Ulang Minwoo dengan masih memeluk erat Yumi. Tangan Yumi masih bergantung dibawah, tidak membalas pelukan Minwoo.

“aku ingin menyampaikan isi hatiku padamu di hari kelulusan kita ini. aku kira kita bisa…”

“mianhae Minwoo – aa..” ujar Yumi memotong ucapan Minwoo, membuat senyum di wajah Minwoo hilang. Yumi melepaskan pelukan Minwoo dan menatap Minwoo. “Minwoo – aa, aku menyukaimu, tentu saja. Tapi hanya sebagai teman saja, tidak lebih. Dan aku tidak mau merusak pertemanan kita ini.” jelas Yumi dengan hati – hati agar tidak menyinggung perasaan Minwoo, walau sebenarnya memang hal itu menyinggung Minwoo.

“kau tidak menyukaiku?” tanya Minwoo. “aku menyukaimu, tapi sebagai teman bukan perasaan suka yeoja terhadap namja. Kita ini teman Minwoo, bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Kau tahu aku tidak suka merusak pertemanan dengan perasaan seperti ini.” jelas Yumi dengan sedikit memaksa agar Minwoo mengerti.

“tidak bisakah kau memberiku kesempatan? Sekali? Setidaknya biarkan aku mencobanya.” Minwoo juga tidak mau kalah, ia memaksa kehendaknya juga kepada Yumi. “maafkan aku Minwoo, aku tidak bisa.” Yumi pun pergi meninggalkan Minwoo, namun sebelum ia benar – benar pergi, Minwoo dengan cepat memeluknya lagi dari belakang.

“tidak bisakah kau melihat ketulusanku Yumi – aa!” bisik Minwoo. Yumi menutup matanya dan mengambil nafas sejenak. Ia dengan perlahan melepas tangan Minwoo yang memeluknya. “aku akan berpura – pura tidak mendengar hal ini. dan kita akan menjadi teman lagi.” Setelah itu Yumi pergi meninggalkan Minwoo sendiri di gedung olahraga itu. Minwoo hanya bisa menatap sendu kepergian Yumi.

Sejak saat itu, Minwoo berusaha melupakan perasaannya pada Yumi. Walaupun sangat sulit, bahkan ia memutuskan untuk berpacaran dengan Suhyun berharap bisa melupakan Yumi. Namun belum bisa. Ia mengatakan kepada Suhyun kalau dulu ia pernah menyukai Yumi, karena itulah Suhyun tidak begitu suka melihatnya dekat dengan Yumi. Ini salahnya karena dulu bercerita kepada Suhyun.

FLASHBACK OFF

Di Jepang

Sudah 1 bulan Yumi ada di Jepang dan sudah beradaptasi dengan cukup baik disana. Selesai dengan pekerjaannya Yumi biasanya akan mampir ke kedai kopi untuk beristirahat sejenak.

Hari ini, dimana pekerjaannya selesai lebih cepat. Yumi bisa pulang lebih awal, ia membawa cup coffee ditangannya dan duduk di halte bus, menunggu bus yang akan membawanya pulang. Di seberang jalan, seseorang terlihat membawa kamera dan mengabadikan setiap momen indah yang ia lihat. Dan ketika orang itu melihat ke seberang jalan, ia melihat Yumi duduk sendirian dengan membawa kopi ditangannya. Angin semilir menerbangkan beberapa helaian rambut Yumi.

Lelaki yang membawa kamera itu tersenyum melihat Yumi dari lensa kameranya. Ia pun segera mengabadikan objek cantik itu. Setelah berhasil didapatkan dan dicek kembali. Ia tersenyum lalu menoleh ke arah Yumi lagi. Ia pun melihat ke kanan kiri sepi tidak ada kendaraan, segera ia menghampiri Yumi.

“Konnichiwa!” sapanya dengan lembut pada Yumi. Yumi mendongak dan tatapan mereka beradu. “kawaii” lirih laki – laki itu. “konnichiwa.” Balas Yumi. Seakan tersadar dari lamunannya, laki – laki itu duduk disamping Yumi.

“Ano, aku sempat mengambil fotomu tadi. Sumimasen, karena kau terlihat sangat cantik ketika memegang kopi itu. Dan kalau tidak salah aku juga pernah bertemu denganmu di café dekat – dekat sini.” Jelas laki – laki itu seraya mengecek kameranya dan ketika menemukan apa yang ia cari, ia menunjukkannya kepada Yumi.

“Sumimasen, jika kau tidak menyukainya aku akan menghapusnya.” Ujar lelaki itu dan membiarkan Yumi mengambil kameranya untuk ia lihat fotonya. “kawaii” jawaban diluar dugaan laki – laki itu, ia terkejut namun juga senang dan menatap Yumi. “Ano, apa aku bisa meminta foto ini? Arigatou, kau mengambil gambar dengan sangat bagus. Apa kau seorang fotografer?” tanya Yumi antusias dan memuji hasil jepretan laki – laki didepannya itu.

Laki – laki itu tersenyum mendengar pujian Yumi. “Hai, aku bisa mengirimkannya.” Jawabnya dengan antusias. “ini, kau bisa mengirimkannya padaku.” Yumi menyodorkan ponselnya kepada laki – laki itu agar ia bisa memberi nomornya yang bisa dihubungi Yumi.

“Hai.” Laki – laki itu menerimanya dengan senang hati dan mengetikkan nomornya lalu menyerahkannya pada Yumi ketika selesai dan menyimpannya. “Mackenyu?” tanya Yumi memastikan namanya benar. “em, Mackenyu Arata.” Laki – laki tersenyum kearah Yumi. “Yumi, Jung Yumi.” Yumi mengulurkan tangannya dan dengan senang hati laki – laki bernama Mackenyu itu menerima uluran tangan Yumi.

“Yumi? Cantik” ujar Mackenyu tanpa sadar. “emm?” tanya Yumi. “Ah maksutku, dalam bahasa jepang Yumi artinya cantik. Itu memang cocok untukmu.” Puji Mackenyu yang terlihat sedikit salah tingkah. “arigatou.” Balas Yumi.

“ah, ini. anggap saja sebagai hadiah karena kau sudah mengambil gambarku dengan bagus.” Yumi memberikan kopinya kepada Mackenyu. Mackenyu menatap lama cup coffee itu sebelum akhirnya menerimanya.

“sepertinya kau sangat menyukai kopi ya? Beberapa kali aku sering melihatmu minum kopi juga di café area sini.” tanya Mackenyu. “emm, aku sangat menyukai kopi. Aroma dan kehangatannya membuatku menjadi lebih baik.” Jawab Yumi. Mackenyu menatap Yumi yang terlihat memandang lurus kedepan.

“Jadi, Yumi. Kau mau berteman denganku?” tiba – tiba saja kata itu terlontar dari mulut Mackenyu. Yumi yang awalnya terkejut detik berikut ia tersenyum dan mengangguk. “emm, mulai hari ini kita berteman.” Jawaban Yumi yang sangat memuaskan bagi Mackenyu.

**

Sejak pertemuan mereka di halte, Yumi dan Mackenyu sering bertemu dan berkomunikasi. Terkadang Mackenyu mengajak Yumi untuk ikut dengannya saat ia ada job pengambilan foto diluar. Yumi yang tidak ada kegiatan pun ikut Mackenyu dan mereka sering menghabiskan waktu bersama setelahnya.

**

“ini.” Mackenyu menyodorkan kopi kepada Yumi, namun Yumi menolaknya membuatnya terheran – heran. “Dousite? Bukankah kau suka kopi?” tanya Mackenyu heran dan mengambil duduk di samping Yumi. “Kurasa lambungku tidak baik – baik saja saat ini, jadi aku akan menghindari kopi sementara waktu.” Jelas Yumi.

“kau punya riwayat sakit lambung?” tanya Mackenyu. “Lalu kenapa kau sering mengkonsumsi kopi, kau tahu itu buruk.” Imbuh Mackenyu. “Kau tunggu dulu disini, aku akan mencarikan minuman yang lain.” Mackenyu segera bergegas sebelum Yumi mencegahnya.

Selang beberapa saat kemudian, Mackenyu datang dengan sekantong plastik yang cukup besar. “apa itu yang kau bawa? Kenapa banyak sekali?” tanya Yumi dengan takjub. “aku memberikanmu roti, susu, air putih, ah ada juga kimbab. Dan beberapa camilan lainnya.” Jelas Mackenyu mengeluarkan beberapa isi kantong plastiknya.

“kau harus banyak makan supaya tidak sakit, aku tidak suka melihatmu sakit.” Yumi terdiam mendengar kalimat Mackenyu barusan. “apa ada yang mengganggu pikiranmu belakangan ini? apa pekerjaanmu terlalu berat?” Mackenyu benar – benar terlihat khawatir. Yumi masih menunduk.

Mackenyu pun memegang tangan Yumi dengan hangat, “kau bisa bercerita padaku Yumi, aku ada disini untukmu. Aku akan selalu ada untuk mendengar semua ceritamu. Jadi kau jangan menyimpannya sendiri, itu tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi lambungmu itu.” Kata Mackenyu dengan tulus. “kau jadi tidak bisa minum kopi kan kalau begini.” Canda Mackenyu setelah itu dan berhasil membuat Yumi terkekeh kecil.

Mackenyu tersenyum melihat Yumi tersenyum kecil. Detik berikutnya Mackenyu membawa Yumi kedalam pelukannya dan menepuk punggungnya dengan lembut. “kata ibuku, pelukan bisa membuat perasaan seseorang menjadi tenang dan hangat. Aku ingin menyalurkan ketenangan dan kehangatan ini kepadamu melalui pelukan ini.”

Yumi yang awalnya terkejut, namun merasa tenang dengan pelukan dan tepukan Mackenyu di pungungnya, ia merasa sangat nyaman dipelukann Mackenyu. Perlahan ia pun membalas pelukan Mackenyu, merasa pelukannya dibalas, Mackenyu merasa senang dan kini mengelus punggung Yumi dengan lembut.

**

Suatu pagi di hari minggu, Mackenyu melihat undangan dari Amerika. Ada panggilan disana selama seminggu. Ia menatap terus undangan itu, ia berpikir keras apa ia bisa meninggalkan Yumi selama seminggu. Ia merasa khawatir pada wanita itu. Wanita itu terlalu rapuh di matanya.

Ia pun mengambil ponselnya dan segera menelfon Yumi. Namun tidak diangkat, Mackenyu mengerutkan keningnya dan mencoba menelfonnya lagi. Namun nihil tetap tidak bisa dan malah dialihkan ke kotak suara.

Tiba – tiba saja Mackenyu merasa khawatir dan segera bergegas ke kontrakan Yumi. Di jalan ia terus menelfon Yumi walau tahu ponsel wanita itu tidak aktif, tapi ia berharap ponselnya segera aktif dan bisa menjawab panggilannya.

Mackenyu berlari dengan cepat dan perasaan yang penuh kekhawatiran. Mackenyu menyimpan ponselnya di saku dan semakin mempercepat larinya. Ia melewati jalanan yang sering ia lalui bersama Yumi ketika menghabiskan waktu bersama.

Setibanya di area dekat kontrakannya Yumi. Mackenyu berhenti dan membungkuk untuk mengatur nafasnya sebelum kembali melanjutkan perjalannya dan menaiki tangga. Karena kontrakan Yumi berada diatas beberapa meter dari jaraknya saat ini berdiri.

Setelah dirasa cukup, Mackenyu mendongak dan melihat Yumi terduduk di tangga dengan pandangan keatas langit. Mackenyu bisa bernafas lega melihat Yumi baik – baik saja, ia pun dengan langkah yang sudah lelah, berjalan setapak demi setapak menaiki tangga menghampiri Yumi.

Mendengar derap langkah kaki seseorang, Yumi menoleh dan mendapati Mackenyu sudah ada di hadapannya dengan penuh keringat dan nafas yang tersengal – sengal. “Mackenyu? Kenapa kau berkeringat sekali? Nafasmu juga tersengal – sengal, kau berlari kesini? Dousite?” tanya Yumi dengan heran sambil berdiri untuk melihat keadaan Mackenyu dengan seksama.

Mackenyu tanpa menjawab pertanyaan Yumi, ia langsung menghamburkan dirinya kepelukan Yumi yang membuat Yumi semakin bertanya – tanya. “kau.. ada apa? Kenapa?” tanya Yumi penasaran. “aku takut terjadi sesuatu padamu, kau tidak mengangkat telfonmu. Aku takut lambungmu sakit lagi dan tidak ada orang yang bisa membantumu, aku takut kau melukai dirimu sendiri lagi. Aku takut, sungguh.” Penjelasan Mackenyu barusan membuat Yumi terdiam.

Ternyata pertemuan pertamanya dengan Mackenyu di halte, Mackenyu melihat ada bekas luka dipergelangan tangan Yumi. Hal itu Mackenyu sadari saat akan menerima kopi dari Yumi. Mackenyu juga memperhatikan Yumi dari jauh ketika berada di café. Tatapan kosongnya membuat Mackenyu bertanya – tanya apa masalah wanita itu. Mackenyu juga khawatir, karena Yumi pernah bercerita kalau suatu pagi lambungnya sangat sakit dan obatnya habis, tidak ada yang bisa ia mintai bantuan. Yumi hanya bisa merintih kesakitan sendirian di kontrakannya.

**

Yumi dan Mackenyu duduk bersebelahan di dalam kontrakan Yumi. Cukup lama mereka berdua saling diam. Yumi yang masih bergelut dengan pikirannya, ia enggan bercerita kepada Mackenyu namun ternyata laki – laki itu sudah mengetahuinya walau belum semuanya dan penyebabnya.

“Ponselku tadi masih kuisi dayanya, jadi aku tidak tahu kalau kau menelfonku. Maaf.” Ujar Yumi setelah lama bergelut dengan pikirannya sendiri. Mackenyu melihat ponsel Yumi yang memang sedang diisi daya di meja tidak jauh darinya duduk saat ini.

“Terimakasih atas kekhawatiranmu juga. Aku tidak menyangka kau akan berlari kemari.” Tawa kecil terdengar dari mulut Yumi. Mackenyu merasa kecewa, sepertinya Yumi tidak mau menceritakannya masalahnya.

“Kau tahu Yumi?” tanya Mackenyu yang membuat Yumi menatapnya. “Dari awal aku melihatmu di café, aku bisa melihat kalau kau itu butuh seorang teman. Karena kau sangat kesepian, itu terlihat dari sorot matamu.”

“Meskipun kau tersenyum, bahkan saat ini. tapi aku tahu kalau itu tidak tulus. Kau memaksakan dirimu untuk terlihat baik – baik saja, padahal tidak.”

“kau berusaha membohongi dirimu sendiri untuk terlihat bahagia.”

“dan aku tidak menyukainya”

Yumi terdiam mendengar penuturan Mackenyu. “Aku, hanya ingin membuatmu tidak merasa kesepian. Aku hanya ingin kau berbagi cerita denganku, tidak peduli senang atau sedih. Aku ingin mengatakan kepadamu kalau kau tidak sendirian, ada aku. Yang siap menjaga dan menjadi apapun yang kamu mau.”

Mata Yumi mulai berkaca – kaca. Mackenyu memegang tangan Yumi dan menggenggamnya seolah memberikan sebuah kekuatan dan kepercayaan. “aku ada disini Yumi, aku ada untukmu.” Tangan Mackenyu perlahan terangkat dan menghapus airmata Yumi yang sudah mengalir di pipinya.

Detik berikutnya Mackenyu membawa Yumi kedalam pelukannya dan memberikan pelukan yang penuh kehangatan. Pelukan yang jarang Yumi dapatkan, pelukan yang sangat membuat Yumi merasa nyaman dan aman.

**

3 hari kemudian Yumi termenung di meja kerjanya. Ia masih ingat beberapa hari yang lalu saat Mackenyu datang kerumahnya, mengkhawatirkannya namun ia tidak bisa bercerita apapun padanya, dan saat Mackenyu berpamitan akan pergi ke Amerika untuk beberapa hari bahkan beberapa minggu kedepan. Mackenyu juga berjanji kepada akan segera kembali dan memberikan kabar padanya setiap ia senggang.

Yumi mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya, ia membaca pesan dari Mackenyu 2 hari yang lalu namun sampai saat ini belum ia balas. Yumi tahu saat ini ia sangat jahat sekali pada Mackenyu. Namun entah kenapa ia ingin membangun tembok yang tinggi diantara Mackenyu dan dirinya.

**

Hari – hari berlalu Yumi lalui dengan penuh kesepian. Benar, ia kesepian setelah kepergian Mackenyu. Memang ia ingin membangun tembok yang tinggi, namun ia tidak menampik kalau ia kesepian dan merindukan sosok Mackenyu.

Mackenyu yang selalu menemaninya dan bercerita hal random kepadanya, bahkan mengajaknya keliling Jepang untuk mengambil foto. Ia juga merindukan pelukan hangat Mackenyu.

**

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Yumi mampir ke sebuah caffee untuk membeli kopi dan membawanya pulang. Ia memegang cup kopi itu dan merasakan kehangatan dari kopi itu. Hal itu membuatnya merasa sedikit tenang. Ia pun berjalan mendekati zebra cross dan berhenti ketika traffic light masih menyala merah untuk pejalan kaki.

Ia mengedarkan pandangannya lalu menatap ke seberang jalan. Ia mematung untuk beberapa saat, traffic light menyala hijau untuk pejalan kaki. Yumi menjatuhkan cup kopinya dan segera berlari ke seberang jalan.

Airmatanya mengalir ketika ia berlari, dan seketika ia menghamburkan dirinya untuk memeluk Mackenyu, orang yang sangat ia tunggu dan rindu. Mackenyu yang awalnya terkejut namun detik berikutnya tersenyum kecil dan membalas pelukan Yumi.

**

Akhirnya Yumi pun menceritakan semua yang membuat Mackenyu penasaran. Mulai dari penyebab ia sering melamun dan merasa kesepian. Ia juga menceritakan masalah mengenai pacar dari temannya yang cemburu padanya, dan ia di permalukan oleh istri teman kerjanya di perusahaan. Bagaimana ia dicap sebagai wanita perebut laki – laki orang. Semua hal itu lama – lama membuat Yumi frustasi dan memang ia sempat berfikiran untuk mengakhiri hidupnya. Sehari sebelum ia berkunjung ke makam kakeknya, Yumi menyayat pergelangan tangannya. Dan ketika ia mengunjungi makam kakeknya, ia merasa bersalah kepada kakeknya karena hampir bunuh diri. Ia yang merasa malu menemui kakeknya, menutupi sayatan di lengannya menggunakan sapu tangan.

Dan ketika ada tawaran pergi ke Jepang, ia memutuskan segera mengambilnya sebelum Yoohan mengambilnya. Ini kesempatan yang ia ambil. Mungkin dengan begini ia menghindar dari semua orang dan tidak akan ada lagi orang yang membicarakannya ataupun cemburu kepadanya.

Lalu, saat bertemu dengan Mackenyu, awalnya ia belum bisa menerimanya sebagai teman. Namun ia juga butuh seorang teman apalagi di negeri orang, karena itu ia memberanikan diri menerima tawaran Mackenyu untuk berteman dengannya.

Lama berteman dan menghabiskan waktu bersama Mackenyu. Yumi merasa sangat senang dan nyaman. Ia tidak merasa khawatir tentang orang lain yang akan mengecapnya sebagai perebut laki – laki orang. Entah kenapa Yumi merasa hal itu tidak akan terjadi ketika ia bersama Mackenyu. Mackenyu, laki – laki pertama yang membuat Yumi merasa nyaman dan menjadi diri sendiri.

Walaupun ia belum bisa terbuka sepenuhnya kepada Mackenyu, namun kepergian Mackenyu ke Amerika beberapa minggu ini membuatnya tersadar. Kalau ia membutuhkan Mackenyu, ia merindukan Mackenyu, dan ia menyukai Mackenyu, tidak, Yumi rasa hatinya sudah terbuka lebar untuk Mackenyu. Itulah kenapa, ketika melihat Mackenyu yang baru pulang dari Amerika. Yumi segera berlari dan memeluknya dengan erat. Seolah menyalurkan rasa rindunya selama ini.

**

Mackenyu memegang kedua tangan Yumi, ia berjongkok di depan Yumi dan mengecup kedua tangan Yumi bergantian lalu mendongak menatap Yumi. Yumi merasa malu, namun juga bisa merasakan betapa tulusnya laki – laki didepannya ini. “Terimakasih, kau sudah percaya padaku. Menungguku, dan mencintaiku. Aku sangat senang mendengarnya. Ini adalah hal terindah yang terjadi dihidupku.” Wajah Mackenyu benar – benar terlihat sangat bahagia. Yumi pun sedikit membungkuk dan memeluk Mackeyu yang masih berjongkong didepannya.

“Aku yang berterimakasih padamu. Kau sudah membawa kebahagiaan di hidupku, kau sudah mewarnaiku hidupku yang abu – abu. Kau yang menunjukkan tulusnya cinta padaku, kau yang sudah berhasil membuka pintu hatiku yang berkarat. Kehadiranmu menghapuskan sepi dihidupku. Dan kehangatan pelukanmu, sehangat secangkir kopi yang selalu ku beli di café. Terimakasih banyak.”

Yumi melepaskan pelukannya namun tangannya masih berada di pundak Mackenyu, sedangkan tangan Mackenyu masih setia melingkar di punggung Yumi. Mereka saling tersenyum degan jarak yang sangat dekat.

END

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar