CAST :
JUNG YUMI
MACKENYU ARATA
NO MINWOO as teman yumi
SUHYUN as pacar minwoo
KIM HYUNJOONG as teman yumi
AHYOUNG as pacar hyunjong
STELLA as teman yumi
KIM TAEYEON as teman yumi
CHO KYUHYUN as pacar taeyeon
SEHANGAT SECANGKIR KOPI
“Yumi – aa, ada yang ingin kubicarakann
denganmu. Bisa ikut aku sebentar?” tanya seorang wanita kepada Yumi yang kini
masih sibuk dengan berkas dan layar komputernya. Sontak wanita yang dipanggil
Yumi tadi menghentikan aktivitasnya dan menatap teman kerjanya itu.
**
Yumi
dan Inha kini berdiri di atap gedung tempat kerja mereka. Mereka berdiri di
tepi pembatas dan menatap pemandangan dari atas gedung. “Ahh segarnya, kantukku
jadi sedikit berkurang. Gomawo inha – aa sudah mengajakku kemari.” Yumi
tersenyum sambil menutup matanya dan menghirup udara yang segar dari atas
gedung.
Inha,
teman Yumi menatap Yumi dengan tatapan yang sulit diartikan. “Yumi – aa!”
panggil Inha kepada Yumi. “Wae? Marhae! Aku bisa mendengar suaramu, tenang
saja.” Jawab Yumi santai dan masih menikmati moment santainya.
“Aku
serius Yumi!” kali ini ekspresi Inha tampak sedikit jengah dengan Yumi yang
tidak begitu mempedulikannya. Senyum Yumi perlahan hilang dan membuka matanya,
lalu menatap temannya itu. “geurae, mwonde? Apa yang ingin kau katakan sampai membawaku
kemari? Sebesar apa masalahmu?” tanya Yumi dengan perhatian.
“ini
bukan masalahku, tapi kamu.” Jawab Inha langsung. “naega wae?” tanya Yumi tidak
mengerti. “kau harus menjauhi Yoohan dan Haejin.” Jawaban Inha membuat Yumi
menatap Inha dengan penuh tanda tanya.
“kenapa
aku harus menjauhi mereka? lagi pula aku tidak begitu dekat dengan mereka
berdua. Wae?” tanya Yumi penasaran. “istri Yoohan cemburu denganmu. Ketika team
kita makan malam beberapa hari yang lalu, ada yang melihatmu dan Yoohan berdiri
di luar resto berdua. Orang itu memberitahukan hal tersebut ke istri Yoohan.
Jadi dia sangat membencimu, dia tidak suka kau dekat – dekat dengan Yoohan,
suaminya.” Jelas Inha yang membuat Yumi terdiam sejenak.
“sebentar,
kita kan makan bersama satu team. Bukan aku dan yoohan saja, dan lagi pula
waktu itu aku sedang membicarakan projek baru kita dengan Yoohan yang ada di
Jepang itu. Itu saja, tidak lebih dan tidak ada yang lain.” Jelas Yumi kepada
Inha, meyakinkan Inha kalau itu memang benar.
“Aku
tahu Yumi, kau hanya membicarakan pekerjaan saja tidak lebih. Tapi orang lain
tidak berpikir seperti itu.” Balas Inha. “Apa istri Yoohan yang tidak percaya?”
tanya Yumi dengan hati – hati.
“karena
istri Yoohan tidak percaya, dia membuat berita yang buruk tentangmu. Bahkan dia
berhasil meracuni pacar Haejin agar ikut membencimu. Dan semua orang di kantor
saat ini sedang membicarakan ini, Yumi!” jelas Inha yang terlihat kesal.
**
Yumi
kembali melanjutkan pekerjaannya setelah pertemuan dengan Inha di atap tadi
siang. Walau pikirannya jadi kacau dan tidak fokus, tapi Yumi tetap berusaha
tenang dan seolah – olah tidak terjadi apa – apa. Selesai dengan pekerjaannya,
Yumi bersiap – siap pulang. Namun ia merasa kurang nyaman saat berjalan di
lorong – lorong karena beberapa orang menatapnya dan berbisik – bisik
tentangnya bahkan di dalam lift pun ia bisa mendengar bisikan itu.
Pintu
lift terbuka, Yumi segera pergi dan meninggalkan gedung tempatnya bekerja.
Udara dingin segera menyapanya ketika keluar dari gedung. Ia mengeratkan
setelannya dan berjalan menuju kontrakannya. Sesekali ia berhenti dan mencoba
menarik nafas panjang seraya menatap langit yang tidak berbintang lalu kembali
berjalan.
**
Yumi
dan teman – teman sekolahnya dulu kini tengah berkumpul di sebuah restoran untuk
makan bersama. Ini kerap dilakukan oleh geng Yumi sejak SMA dulu. Dan setelah
lulus, mereka jarang bertemu tapi sesekali berkumpul untuk makan bersama
seperti saat ini.
“ah
Yumi, kenalkan ini Suhyun pacar Minwoo, ini Ahyoung pacar Hyunjoong.” Ujar Stella
memperkenalkan pacar Minwoo dan pacar hyunjoong kepada Yumi, karena memang ini
pertama kalinya Yumi bertemu dengan mereka.
“Jung
Yumi”
“Suhyun”
“Ahyoung”
Mereka
saling berkenalan dan tersenyum. Suhyun tampak semakin mendekat kearah Minwoo
dan hal itu diketahui oleh Stella yang sontak langsung tertawa. “waeirae? Kau
tertawa seperti itu tiba – tiba.” Yumi heran dengan Stella. “Kau tahu Yumi –
aa, dia ini sangat takut denganmu, ani lebih tepatnya cemburu denganmu.” Tawa
Stella memenuhi ruangan itu.
“Stella,
kenapa kau bilang seperti itu, aku jadi merasa malu.” Lirih Suhyun. Yumi
terdiam mendengarnya. “Yah, tidak heran. Dari SMA dulu Yumi memang paling
cantik, banyak yang suka padanya. Hyunjoong saja sering menggodanya, bahkan
para hoobae pun banyak yang tertarik dengannya.” Puji Stella yang membuat
Suhyun diam dan menatap Yumi.
Sadar
akan tatapan Suhyun Yumi pun bersuara. “aih, mworae. Itu tidak benar, lagi pula
itu kejadian waktu SMA. Sudah lama, kenapa kau mengungkitnya.” Sanggah Yumi.
“Aku takjub denganmu Yumi – aa, dari SMA dulu meskipun banyak yang jatuh hati
denganmu tapi kau tetap teguh pada pendirianmu dan tidak goyah. Aku yakin kau
akan dapat laki – laki yang baik nanti.” Ujar Hyunjoong. “eih benar, Suhyun itu
sebenarnya sempat cemburu denganmu dulu karena Minwoo pernah dekat denganmu.
Lihatlah, dia terus menempel pada Minwoo dan tidak melepas tangannya dari
Minwoo. Haha.” Lagi, ucapan Stella membuat Yumi diam dan menatap kearah Minwoo
dan Suhyun.
“Aniya
Suhyun – aa, kau tidak perlu khawatir. Itu tidak benar. Kami semua berteman
disini, jadi jangan diambil hati ya ucapan Stella tadi.” Ujar Yumi berusaha
meredam isi kepala Suhyun yang terbaca oleh Yumi. “geurae, itu tidak benar.
Lagi pula kita sudah berteman sejak SMA, jadi tentu saja dekat satu sama lain.
Kau tidak usah khawatir, aku kan sudah mempunyaimu.” Kini giliran Minwoo yang
menenangkan Suhyun.
“kurasa
cukup bicaranya, bukankah saatnya kita makan?” ujar Ahyoung. “kau benar, khajja
kita makan. Jalmogoseumnida.” Ujar Stella diikuti yang lainnya dan mulai
menyantap makanannya.
**
Di
kontrakannya, Yumi menatap fotonya bersama kakeknya yang sudah meninggal 5
tahun lalu. Ia menatap foto kakeknya yang sangat ia rindukan kehadirannya. Air
mata menetes jatuh di pigura foto itu, perlahan tangan Yumi yang memegang
pigura itu bergetar dan tampak mencengkeram pigura dengan keras seolah mencari
kekuatan.
Namun
tidak berhasil ia dapatkan, ia pun hanya bisa menangis. “harabeoji, bogoshipeo.
Jinjja bogoshipeoso.” Yumi pun hanya bisa menangis dan memeluk foto kakeknya
itu.
**
Beberapa
hari kemudian, Yumi menjalani hari – harinya seperti biasa. Dan hari ini,
selesai dengan pekerjaannya. Team Yumi akan mengadakan makan malam untuk
merayakan keberhasilan projek yang Yumi ajukan.
“Ah
mian, kurasa aku tidak bisa ikut.” Tolak Yumi dengan halus. “wae? ini kan
project mu? Ini untuk merayakan keberhasilanmu, kalau kau tidak ikut, makan
malam ini tidak akan ada artinya.” Sahut Inha. Yumi menatap beberapa rekan
kerjanya, mulai dari Inha, Yoohan, Haejin dan yang lainnya. “mian, aku benar –
benar tidak bisa.” Yumi pun pergi meninggalkan semua rekannya itu.
Yoohan
merasa bersalah, Yumi pasti menghindar karena ulah istrinya itu yang
menyebarkan berita tentang Yumi dan menghasut pacar Haejin untuk ikut membenci
Yumi. Inha seperti nya mulai paham alasan Yumi menolak, ia pun segera berujar
“aih, eotteokhae? Apa kita lanjut makan malam tanpa Yumi atau batal?” kata Inha
dan menatap rekan kerjanya bergantian. “Khajja, kita makan. Aku lapar.” Balas
Yoohan lalu beranjak dan diikuti yang lainnya.
**
“Taeyeon
– aa.” Yumi memeluk sahabatnya dengan erat hingga membuat Taeyeon sulit
bernafas. “Ya! waegeurae eonni? Aku tidak bisa bernafas tahu, longgarkan
pelukanmu itu.” Taeyeon berusaha melepaskan pelukan Yumi tapi tidak bisa, yang
ada Yumi malah mempereratnya hingga membuat Taeyeon bertanya – tanya, seperti
terjadi sesuatu dengannya.
**
Taeyeon
datang dan meletakkan secangkir coklat di atas meja. Yumi menatapnya dan
tersenyum, “gomawo uri dongsaeng – ie.” Yumi mengambil cangkir itu dan mengerutkan
keningnya. “ini bukan kopi?” tanya Yumi heran.
“ini
sudah malam, kalau kau minum kopi kau akan kesulitan tidur. Coklat hangat ini
lebih dari kopi, itu bisa membuat pikiran eonni lebih rilex.” Jelas Taeyeon.
“geurae?” tanya nya seraya mencium aromanya terlebih dahulu sebelum mencobanya.
“kau
benar Taeng, gomawo.” Ujar Yumi. Taeyeon menatap Yumi dengan seksama. “marhae,
bukankah ada yang ingin kau ceritakan padaku? Mwondae?” tanya Taeyeon langsung.
Senyum di wajah Yumi perlahan menghilang dan dia menggigit bibirnya untuk
berpikir dan bersiap bercerita kepada Taeyeon.
Akhirnya
Yumi pun menceritakan pertemuannya dengan teman – teman SMA nya di restoren
beberapa hari yang lalu. Taeyeon jadi merasa iba dengan seonbae nya itu dan
kesal juga dengan teman – teman seonbae nya itu.
“Ya!
kenapa mereka membahas kejadian lama? Itu sudah 10 tahun yang lalu, dan lagi
pula itu tidak benar. Aku tahu itu, kau tidak hanya dekat dengan Minwoo ataupun
Hyunjoong saja, kau dekat dengan semuanya. Kau juga bukanlah wanita yang akan
merebut laki – laki orang. Kenapa mereka seperti itu padamu, apa benar itu
namanya teman?” kesal Taeyeon.
“itu
menurutmu Taeng, tapi menurut orang lain bisa saja tidak seperti itu.” Yumi
tampak menundukkan kepalanya. Taeyeon menghela nafasnya. “eonnie, dengarkan
aku.” Taeyeon memegang pundak Yumi dan membuat Yumi mendongak menatapnya.
“yeppeoseo,
karena kau cantik dan hatimu sangat baik, itulah yang membuat kecantikanmu
terpancar dan membuat orang – orang jadi menyukaimu. Itu bukan salahmu kalau
mereka suka padamu. Toh dari sekian banyak orang yang menyukaimu, tidak ada
satu pun kan yang berhasil mengambil hatimu? Jadi tuduhan mereka yang
mengatakan kalau wanita perebut laki – laki orang itu tidak benar. Mereka hanya
iri saja padamu eonnie.” Taeyeon berusaha sekuat tenaga untuk menghibur kakak
seniornya semasa di SMA dulu.
“benarkah
itu? Ini bukan salahku?” mata Yumi tampak berkaca – kaca menatap Taeyeon. “emm,
mereka yang salah, bukan eonnie.” Jawab Taeyeon yang ikut berkaca – kaca juga.
“aku benar – benar tidak punya perasaan kepada mereka, aku hanya berteman baik
dengan mereka, aku menganggap mereka teman, tidak lebih. Aku juga tidak punya
pikiran untuk menganggap mereka lebih dari teman.” Ujar Yumi disertai isak
tangis yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
“aku
takut kakekku akan kecewa jika mendengar berita ini Taeng..” menyebut kakeknya,
tangis Yumi semakin menjadi. Taeyeon pun segera memeluk Yumi dengan erat dan
ikut menangis bersamanya. Taeyeon terlihat mengelus punggung Yumi agar Yumi
merasa lebih baik meskipun saat ini masih menangis terisak.
**
Keesokan
paginya, Yumi membuka matanya dan menghela nafasnya. “kurasa aku terlalu banyak
menangis semalam, mataku pasti bengkak. Aihh ” ia pun bangkit dari tempat
tidurnya dan segera mencuci wajahnya lalu membuat secangkir kopi.
Selesai
membuat kopi dan roti panggang, Yumi duduk diluar kontrakannya untuk menikmati
angin pagi dan hangat sinar matahari sembari menikmati kopi dan roti
panggangnya. “emm, hangat.” Yumi tersenyum menghirup aroma dari secangkir kopi
yang ia buat.
Setelah
menikmati roti dan kopinya, Yumi kembali melamun.
FLASHBACK
“Kyuhyun
Oppa melamarku minggu lalu, kami akan menikah bulan depan eonni.” Kata Taeyeon
setelah Yumi selesai dengan semua ceritanya. “geurae? Hwahh, chukkae. Akhirnya penantianmu
selama ini tercapai. Aku benar – benar ikut senang mendengarnya.” Yumi tampak
kembali bersemangat mendengar berita pernikahan Taeyeon.
“eonnie
apa aku minta tolong saja ya ke Kyuhyun oppa?” tanya Taeyeon tiba – tiba
antusias. “minta tolong apa?” Yumi tidak mengerti maksud Taeyeon. “Kyuhyun oppa
kan punya banyak teman dan senior juga. Mungkin saja, dia bisa mengenalkanmu
dengan mereka.” perkataan Taeyeon barusan membuat Yumi menatapnya. “wae? apa
aku salah?” tanya Taeyeon khawatir Yumi tersinggung.
Namun
Yumi malah tertawa, “kau tidak perlu seperti itu, itu bukan tanggungjawabmu
untuk mencarikanku pasangan Taeyeon – aa, kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”
Tawa Yumi pecah seketika.
“kau
bisa tertawa setelah menangis tersedu – sedu tadi.” Cibir Taeyeon. “Ani, aku
hanya mengkhawatirkanmu eonni, jika kau datang ke pernikahanku dengan seorang
namja mereka pasti tidak akan mencibirmu lagi dan tidak akan menggosipkanmu
yang bukan – bukan lagi.” Kesal Taeyeon.
“Dan
aku juga merasa bersalah karena menikah lebih dulu meninggalkanmu.” Imbuhnya
dengan menundukkan kepalanya. Yumi menggenggam tangan Taeyeon, “Taeyeon – aa,
dengarkan aku.” Ujar Yumi namun Taeyeon tak kunjung mengangkat kepalanya. Yumi
pun memegang pundaknya. “tatap aku Taeng..” pinta Yumi dengan lembut, Taeyeon
pun mengangkat kepalanya dengan perlahan dan terlihat airmata sudah menggenang
di kedua matanya.
“Na
gwenchanna, aku sangat senang dengan berita pernikahanmu itu dan aku merasa
tidak ditinggalkan. Sungguh, aku tidak peduli dengan perkataan mereka nanti. Yang
ku pedulikan adalah kamu, kamu harus tampil cantik saat pernikahan nanti. Emm,
kau tidak boleh bersedih apalagi menangis nanti, kau terlihat jelek saat
menangis, sungguh.” Ujar Yumi diselingi candaan diakhir yang membuat Taeyeon
terkekeh kecil berbarengan dengan airmatanya menetes dan segera diseka olehnya.
“aku
tidak mau memacari orang lain hanya untuk menutupi tentang masalahku Taeng. Itu
tidak adil. Aku akan mencari seseorang ketika aku benar – benar siap membuka
hatiku, bukan karena orang lain.” Imbuh Yumi lagi.
“tapi
nanti kau keburu tua eonnie.” Ujar Taeyeon dengan niat bercanda. “YA! Kau
mengataiku barusan ya?” Yumi pura – pura kesal dan segera merangkul kepala
Taeyeon dengan erat di ketiaknya. Taeyeon pun mencoba menghindar tapi rangkulan
Yumi begitu kuat, dan mereka pun sama – sama tertawa.
FLASHBACK
OFF
“huft,
dia benar. Aku semakin tua, di usiaku yang sekarang seharusnya aku sudah
menikah. Aih, apa yang ku pikirkan, punya pacar saja tidak kenapa memikirkan
pernikahan. Aigoo, Yumi jeongsijaryo!” yumi mengacak – acak rambutnya dengan
gusar.
**
Taeyeon
begitu cantik mengenakan gaun pengantin dan berjalan di altar. Kyuhyun juga
terlihat tampan dan tersenyum menatap Taeyeon yang begitu cantik di matanya.
Mereka berdua mengucapkan janji pernikahan dan disaksikan oleh para undangan
termasuk Yumi dan teman – temannya.
**
Yumi
mengambil minuman di salah satu meja ketika Taeyeon sibuk dengan para tamu
undangan. “Yumi – ssi, bisa bicara sebentar?” Yumi menoleh dan mendapati Suhyun
menatapnya. Selesai meminum sedikit minuman yang ia ambil, Yumi meletakkan
kembali gelasnya di meja. “Ada apa Suhyun – ssi?” tanya Yumi. “Bisakah kita
keluar sebentar? Aku kurang nyaman berbicara disini.” Ujar Suhyun. Yumi pun
menggangguk dan mengikuti arah perginya Suhyun.
**
Kini
Yumi dan Suhyun sudah diluar ruangan resepsi dan Suhyun memilih di salah satu
lorong yang tampak sepi dari lalu lalang orang. Yumi tersenyum tipis menatap
Suhyun seolah bertanya apa yang ingin dibicarakan Suhyun padanya.
“kurasa
kau tahu maksutku mengajakku kesini.” Kata Suhyun mengawali pembicaraan. “emm
ne? Ani, bisakah kau jelaskan lebih detail? Maksutku bisa kau jelaskan lebih
dulu permasalahannya? Aku tidak mengerti.” Jawab Yumi yang memang tidak tahu
maksut Suhyun.
“ini
tentang Minwoo.” Mendengar nama Minwoo, Yumi akhirnya paham arah pembicaraan
Suhyun. “tto? Apa kau masih mencurigaiku kalau aku akan merebut Minwoo darimu?
Apa kau masih cemburu padaku?” tanya Yumi dengan kecewa.
“bukan
masih, tapi aku akan selalu cemburu jika itu adalah kamu Yumi – ssi.” Balas Suhyun
yang membuat Yumi menggigit bibirnya dan menghela nafasnya dengan kasar.
“Suhyun – ssi harus berapa kali ku jelaskan padamu. Aku tidak memiliki perasaan
apapun pada Minwoo, aku hanya menganggapnya sebagai teman tidak lebih. Kami
semua berteman, Aku, Stella, Hyunjoong dan Minwoo, begitu juga denganmu dan
Ahyoung.” Jelas Yumi berusaha meyakinkan Suhyun.
“Aku
tahu aku begitu egois Yumi – ssi, aku tidak seharusnya melarang Minwoo oppa
berteman dengan siapa saja. Tapi entah kenapa jika itu kamu, aku merasa tidak
suka. Karena dulu Minwoo oppa pernah bercerita kalau dia punya perasaan padamu.
Jadi aku benar – benar takut..” lirih Suhyun dengan mata yang sudah berkaca –
kaca.
Yumi
diam dan menatap Suhyun yang berusaha keras menahan airmatanya. Yumi yang gusar
dan kesal pun akhirnya bersuara. “apa yang harus ku lakukan, agar membuatmu
tidak khawatir lagi?” tanya Yumi yang membuat Suhyun mendongak menatapnya.
“bisakah kau menjauh dari Minwoo oppa?” permintaan Suhyun tidak begitu sulit
bagi Yumi, tapi Yumi takut akan kesepian jika harus menjauh dari teman –
temannya, apalagi Taeyeon sudah menikah. Pasti tidak banyak temannya nanti.
“Baiklah, jika itu membuatmu tenang. Akan aku lakukan.” Jawab Yumi setelah
beberapa saat berpikir dengan keras.
**
Yumi
kembali ke aula setelah berbicara dengan Suhyun tadi. Suhyun lebih dulu pergi
agar tidak ada yang tahu, dan Yumi memilih untuk masuk aula setelah beberapa
menit. Ia melihat teman – temannya yang asyik bercengkerama dan tertawa satu
sama lain. Hyunjoong dan pacarnya, Stell, Minwoo dan Suhyun yang kini
menatapnya. Yumi tersenyum tipis lalu memilih menghampiri Taeyeon yang tengah
mengobrol dengan Kyuhyun di sudut ruangan.
“Eonni,
kau kemana saja? Aku mencarimu daritadi.” Ujar Taeyeon ketika melihata Yumi
menghampirinya. “maafkan aku, tadi ada sedikit masalah jadi aku keluar
sebentar.” Ujar Yumi. “Masalah apa?” tanya Kyuhyun. “ah, apa ini tentang
proyekmu yang di Jepang?” tanya Taeyeon antusias. “eooh.. kau benar.” Bohong
Yumi. “lalu apa kau akan pergi ke Jepang jika kesempatan itu ada?” tanya
Taeyeon lagi. “haruskah?” tanya Yumi ragu – ragu. “eih, tentu saja kau harus
pergi noona. Carilah pengalaman baru disana, dan mungkin kau akan bertemu
temann baru disana.” Jelas Kyuhyun. “emm, Kyuhyun oppa benar. Kau harus pergi
eonni.” Kata Taeyeon meyakinkan. Yumi tersenyum kearah Taeyeon dan Kyuhyun.
“geurae? Kalau begitu aku harus pergi jika kalian berkata seperti itu. Hehe.”
Kekeh Yumi.
**
Beberapa
hari kemudian Yumi melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, bekerja. Saat jam
makan siang, Yumi berencana mencari makan diluar. Namun siapa sangka, ketika ia
berjalan di lorong lantai 1. Tiba – tiba wajahnya basah. Seseorang telah
menyiramnya dengan es kopi. Yumi dan beberapa orang disana terkejut. Yumi
mencoba membuka matanya perlahan lalu melihat siapa yang menyiramnya.
“Kau
memang wanita penggoda ya, dasar murahan! Tidak cukup suamiku, kau juga
mengambil pacar teman sendirimu. Dasar!” bentak orang itu yang tidak lain
adalah istri Yoohan. “chogio, apa kau punya bukti kalau aku menggoda suamimu
dan merebut pacar temanku?” kesal Yumi. “aku melihatmu kemarin di gedung
pernikahan. Temanmu bahkan meminta padamu untuk menjauhi pacarnya. Apa itu
tidak cukup? Ah, suamiku juga tidak pulang. Kau bawa kemana dia?” desak istri
Yoohan.
Yumi
tidak bisa berkata – kata, ia hendak berucap tapi ia melihat beberapa orang
disekelilingnya mulai mencibirnya. Ia pun memilih bungkam hingga tiba – tiba
Yoohan datang dan segera menyeret istrinya keluar.
**
Yumi
kini makan sendirian di dekat pusara kakeknya. Ia membawa 2 bungkus makanan, 1
untuk ia makan, 1 nya lagi untuk kakeknya. Tidak lupa juga kopinya. Yumi makan
dengan perlahan dan sesekali menatap pusara kakeknya.
“sepertinya
lambungku belakangan ini kurang baik harabeoji, aku juga kurang berselara makan
karena itulah aku kesini untuk mengajakmu makan. Karena kau tidak pernah
mengunjungi cucumu ini, setidaknya kau harus menemaninya makan hari ini sebelum
cucumu ini pergi ke Jepang lusa.”
Diam
dan meletakkan sendoknya di kotak makan. Yumi menunduk. Samar – samar terdengar
isakan dan terlihat bahu Yumi mulai bergetar. Pelan tapi pasti getaran di tubuh
Yumi semakin menjadi dan isakannya semakin terdengar jelas. Yumi menangis
didekat pusara kakeknya.
“apa
salahku harabeoji? Kenapa semua orang mencurigaiku? Kenapa orang – orang
berpikir kalau aku itu wanita perebut laki – laki orang. Kenapa? Aku tidak
seperti itu harabeoji, kenapa?”
“apa
wajahku ini memang wajah penggoda? Aku bahkan belum pernah merasakan jatuh
cinta dan pacaran. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka memperlakukanku
seperti itu? Kenapa mereka kejam padaku
harabeoji?”
Ujar
Yumi terbata - bata dengan sesenggukan dan tidak bisa mengontrol pikirannya
serta airmatanya. “kenapa kau diam saja? Apa tidak ada yang ingin kau katakan
untuk menghiburku?” Yumi menatap penuh harap ke arah pusara kakeknya.
Airmatanya yang terus mengalir, Yumi pun berusaha menghapusnya walaupun tetap
saja mengalir lagi. “kau tidak memberiku pelukan?” imbuhnya. Nihil, seperti
orang gila. Yumi terus berbicara sendiri di pusara kakeknya yang dia sendiri
tahu kalau tidak akan ada jawaban pastinya. Merasa putus asa, Yumi pun memilih
menyenderkan kepalanya di pusara kakeknya.
**
Setelah
merasa cukup dengan sesi curhatnya di pusara sang kakek. Yumi memutuskan pulang
dan mampir ke apotik terdekat untuk membeli obat asam lambung. Di jalan, ia
bertemu anak kecil yang bermain sendiri di ayunan. Ia tersenyum dan menghampiri
anak itu.
“ya!
apa kau sudah makan? Aku mempunyai 1 kotak nasi yang masih utuh, apa kau mau?”
Yumi menawari dengan wajah tulus dan senyumnya yang mengembang. Anak kecil itu
pun menggangguk dengan senang. Yumi memberikan kotak nasi milik kakeknya tadi
kepada anak kecil itu. “Ja, makanlah supaya kau bisa cepat tumbuh besar.” Yumi
mengelus rambut anak itu. “gomapseumnida.” Ujar anak itu. Yumi tersenyum
melihat respon anak itu, ia pun kembali bangkit dan mencari apotik terdekat.
Setelah
berjalan cukup lama di area itu, akhirnya Yumi menemukan apotik yang ia cari.
“Eoseooseyo, apa ada yang bisa ku bantu?” sapa pemilik apotik yang tetlihat
menata beberapa obat di rak. Yumi berjalan perlahan dan mendekati meja kasir.
“tolong obat asam lambungnya.” Ujar Yumi.
Pemilik
apotik itu menghentikan aktivitasnya dan menoleh. Mata Yumi membulat melihat
pemilik apotik itu. “Minwoo – ssi, apa yang kau lakukan disini? Kau tidak
bekerja?’ heran Yumi, harusnya Minwoo ada dirumah sakit, kenapa ia malah di
apotik. “aku sedang libur. hari ini adalah hari liburku, dan aku membantu kedua
orangtuaku disini, mereka sedang ada keperluan. Jadi aku menggantikan mereka.”
Jelas Minwoo sambil membungkus obat yang dipesan Yumi tadi.
“Ah
jadi orangtuamu tinggal disini.” Lirih Yumi. Keduanya pun salin diam dan
keadaan menjadi kaku. Minwoo pun menangkap pemandangan yang membuatnya
tertarik. Ia melihat Yumi membawa cup coffe.
“apa
obat ini untukmu?” tanya Minwoo. “emm, belakangan ini lambungku kurang baik.”
Jawab Yumi. “kau membeli obat asam lambung, tapi kau minum kopi? Heh, percuma
saja. Itu akan memperburuk asam lambungmu.” Jelas Minwoo.
“Ani,
aku tidak meminumnya, ini masih utuh. Apa kau mau? Jika dibuang akan sangat
sayang.” Yumi menyodorkan cup coffe itu kearah Minwoo. “lalu untuk apa kau
membelinya jika kau tidak meminumnya?” tanya Minwoo tidak percaya.
“aku
hanya suka saja, kehangatan dari se cup coffe dan aromanya. Biasanya aku sering
minum coffe, tapi ketika lambungku tidak baik – baik saja, aku tidak bisa meminumnya.”
Jelas Yumi. Minwoo mengambil cup coffe itu dan menyerahkan bungkusan obat
kepada Yumi.
Yumi
tersenyum melihat Minwoo mengambil cup coffe itu. “anggap saja itu sebagai
hadiah perpisahan.” Ujar Yumi yang membuat Minwoo terkejut, hal itu terlihat
dari sorot mata Minwoo yang membulat dan menatap tajam kearah Yumi. “aku akan
pergi ke Jepang untuk menyelesaikan projekku, lusa.” Jawab Yumi yang paham maksut tatapan Minwoo padanya.
“kalau begitu aku pergi, terimakasih.” Yumi pun meninggalkan Minwoo yang masih
terdiam ditempatnya menatap cup coffee ditangannya.
“dingin,
sama seperti sikapmu padaku.” Ujar Minwoo merasakan cup coffee itu yang sudah
dingin, dan tidak merasakan lagi kehangatannya. Ia pun menoleh keluar dan tidak
mendapati Yumi, ia sudah berlalu dari hadapan Minwoo.
FLASHBACK
ON
Hari
kelulusan saat SMA
Yumi
memasuki gedung olahraga dan mencari Minwoo. “Minwoo – ssi, eodieyo?” panggil
Yumi dan celingukan mencari keberadaan Minwoo, ia menerima pesan dari Minwoo
kalau ada yang ingin Minwoo sampaikan. Jadi ia mendatangi gedung olahraga,
tampat yang ditunjuk Minwoo.
“Minwoo
– ssi..” panggil Yumi lagi, namun nihil. Tidak ada jawaban. Ia pun meraih
ponsel di sakunya dan menelpon Minwoo. Terdengar dering ponsel, Yumi bisa
mendengar dering ponsel Minwoo, ia pun menoleh kebelakang dan melihat Minwoo
berdiri didepanya dengan jarak beberapa langkah. Yumi tersenyum lalu mematikan
kembali ponselnya.
“Ya!
aku mencarimu daritadi, kau baru datang? Apa yang ingin katakan?” tanya Yumi
yang masih berdiri di tempatnya. Ia melihat wajah Minwoo yang begitu serius.
“wae? apa ada masalah yang serius?” tanya Yumi penasaran. Detik berikutnya ia
melihat Minwoo berjalan menghampirinya dan dengan cepat memeluknya dengan erat.
Yumi
cukup terkejut dengan tindakan Minwoo yang tiba – tiba. “Minwoo – aa, waeirae?”
tanya Yumi sedikit takut dan cemas. “johae”
Satu
kata yang butuh waktu beberapa menit untuk dicerna otak Yumi. “johahandago,
naega. Jung Yumi Johae.” Ulang Minwoo dengan masih memeluk erat Yumi. Tangan
Yumi masih bergantung dibawah, tidak membalas pelukan Minwoo.
“aku
ingin menyampaikan isi hatiku padamu di hari kelulusan kita ini. aku kira kita
bisa…”
“mianhae
Minwoo – aa..” ujar Yumi memotong ucapan Minwoo, membuat senyum di wajah Minwoo
hilang. Yumi melepaskan pelukan Minwoo dan menatap Minwoo. “Minwoo – aa, aku
menyukaimu, tentu saja. Tapi hanya sebagai teman saja, tidak lebih. Dan aku
tidak mau merusak pertemanan kita ini.” jelas Yumi dengan hati – hati agar
tidak menyinggung perasaan Minwoo, walau sebenarnya memang hal itu menyinggung
Minwoo.
“kau
tidak menyukaiku?” tanya Minwoo. “aku menyukaimu, tapi sebagai teman bukan
perasaan suka yeoja terhadap namja. Kita ini teman Minwoo, bagaimana bisa kau
mengatakan hal itu? Kau tahu aku tidak suka merusak pertemanan dengan perasaan
seperti ini.” jelas Yumi dengan sedikit memaksa agar Minwoo mengerti.
“tidak
bisakah kau memberiku kesempatan? Sekali? Setidaknya biarkan aku mencobanya.”
Minwoo juga tidak mau kalah, ia memaksa kehendaknya juga kepada Yumi. “maafkan
aku Minwoo, aku tidak bisa.” Yumi pun pergi meninggalkan Minwoo, namun sebelum
ia benar – benar pergi, Minwoo dengan cepat memeluknya lagi dari belakang.
“tidak
bisakah kau melihat ketulusanku Yumi – aa!” bisik Minwoo. Yumi menutup matanya
dan mengambil nafas sejenak. Ia dengan perlahan melepas tangan Minwoo yang
memeluknya. “aku akan berpura – pura tidak mendengar hal ini. dan kita akan
menjadi teman lagi.” Setelah itu Yumi pergi meninggalkan Minwoo sendiri di
gedung olahraga itu. Minwoo hanya bisa menatap sendu kepergian Yumi.
Sejak
saat itu, Minwoo berusaha melupakan perasaannya pada Yumi. Walaupun sangat
sulit, bahkan ia memutuskan untuk berpacaran dengan Suhyun berharap bisa
melupakan Yumi. Namun belum bisa. Ia mengatakan kepada Suhyun kalau dulu ia
pernah menyukai Yumi, karena itulah Suhyun tidak begitu suka melihatnya dekat
dengan Yumi. Ini salahnya karena dulu bercerita kepada Suhyun.
FLASHBACK
OFF
Di
Jepang
Sudah
1 bulan Yumi ada di Jepang dan sudah beradaptasi dengan cukup baik disana.
Selesai dengan pekerjaannya Yumi biasanya akan mampir ke kedai kopi untuk
beristirahat sejenak.
Hari
ini, dimana pekerjaannya selesai lebih cepat. Yumi bisa pulang lebih awal, ia
membawa cup coffee ditangannya dan duduk di halte bus, menunggu bus yang akan
membawanya pulang. Di seberang jalan, seseorang terlihat membawa kamera dan
mengabadikan setiap momen indah yang ia lihat. Dan ketika orang itu melihat ke
seberang jalan, ia melihat Yumi duduk sendirian dengan membawa kopi
ditangannya. Angin semilir menerbangkan beberapa helaian rambut Yumi.
Lelaki
yang membawa kamera itu tersenyum melihat Yumi dari lensa kameranya. Ia pun
segera mengabadikan objek cantik itu. Setelah berhasil didapatkan dan dicek
kembali. Ia tersenyum lalu menoleh ke arah Yumi lagi. Ia pun melihat ke kanan
kiri sepi tidak ada kendaraan, segera ia menghampiri Yumi.
“Konnichiwa!”
sapanya dengan lembut pada Yumi. Yumi mendongak dan tatapan mereka beradu.
“kawaii” lirih laki – laki itu. “konnichiwa.” Balas Yumi. Seakan tersadar dari
lamunannya, laki – laki itu duduk disamping Yumi.
“Ano,
aku sempat mengambil fotomu tadi. Sumimasen, karena kau terlihat sangat cantik
ketika memegang kopi itu. Dan kalau tidak salah aku juga pernah bertemu
denganmu di café dekat – dekat sini.” Jelas laki – laki itu seraya mengecek
kameranya dan ketika menemukan apa yang ia cari, ia menunjukkannya kepada Yumi.
“Sumimasen,
jika kau tidak menyukainya aku akan menghapusnya.” Ujar lelaki itu dan
membiarkan Yumi mengambil kameranya untuk ia lihat fotonya. “kawaii” jawaban
diluar dugaan laki – laki itu, ia terkejut namun juga senang dan menatap Yumi.
“Ano, apa aku bisa meminta foto ini? Arigatou, kau mengambil gambar dengan
sangat bagus. Apa kau seorang fotografer?” tanya Yumi antusias dan memuji hasil
jepretan laki – laki didepannya itu.
Laki
– laki itu tersenyum mendengar pujian Yumi. “Hai, aku bisa mengirimkannya.”
Jawabnya dengan antusias. “ini, kau bisa mengirimkannya padaku.” Yumi
menyodorkan ponselnya kepada laki – laki itu agar ia bisa memberi nomornya yang
bisa dihubungi Yumi.
“Hai.”
Laki – laki itu menerimanya dengan senang hati dan mengetikkan nomornya lalu
menyerahkannya pada Yumi ketika selesai dan menyimpannya. “Mackenyu?” tanya
Yumi memastikan namanya benar. “em, Mackenyu Arata.” Laki – laki tersenyum
kearah Yumi. “Yumi, Jung Yumi.” Yumi mengulurkan tangannya dan dengan senang
hati laki – laki bernama Mackenyu itu menerima uluran tangan Yumi.
“Yumi?
Cantik” ujar Mackenyu tanpa sadar. “emm?” tanya Yumi. “Ah maksutku, dalam bahasa
jepang Yumi artinya cantik. Itu memang cocok untukmu.” Puji Mackenyu yang
terlihat sedikit salah tingkah. “arigatou.” Balas Yumi.
“ah,
ini. anggap saja sebagai hadiah karena kau sudah mengambil gambarku dengan
bagus.” Yumi memberikan kopinya kepada Mackenyu. Mackenyu menatap lama cup
coffee itu sebelum akhirnya menerimanya.
“sepertinya
kau sangat menyukai kopi ya? Beberapa kali aku sering melihatmu minum kopi juga
di café area sini.” tanya Mackenyu. “emm, aku sangat menyukai kopi. Aroma dan
kehangatannya membuatku menjadi lebih baik.” Jawab Yumi. Mackenyu menatap Yumi
yang terlihat memandang lurus kedepan.
“Jadi,
Yumi. Kau mau berteman denganku?” tiba – tiba saja kata itu terlontar dari
mulut Mackenyu. Yumi yang awalnya terkejut detik berikut ia tersenyum dan
mengangguk. “emm, mulai hari ini kita berteman.” Jawaban Yumi yang sangat
memuaskan bagi Mackenyu.
**
Sejak
pertemuan mereka di halte, Yumi dan Mackenyu sering bertemu dan berkomunikasi.
Terkadang Mackenyu mengajak Yumi untuk ikut dengannya saat ia ada job
pengambilan foto diluar. Yumi yang tidak ada kegiatan pun ikut Mackenyu dan
mereka sering menghabiskan waktu bersama setelahnya.
**
“ini.”
Mackenyu menyodorkan kopi kepada Yumi, namun Yumi menolaknya membuatnya
terheran – heran. “Dousite? Bukankah kau suka kopi?” tanya Mackenyu heran dan
mengambil duduk di samping Yumi. “Kurasa lambungku tidak baik – baik saja saat
ini, jadi aku akan menghindari kopi sementara waktu.” Jelas Yumi.
“kau
punya riwayat sakit lambung?” tanya Mackenyu. “Lalu kenapa kau sering
mengkonsumsi kopi, kau tahu itu buruk.” Imbuh Mackenyu. “Kau tunggu dulu
disini, aku akan mencarikan minuman yang lain.” Mackenyu segera bergegas
sebelum Yumi mencegahnya.
Selang
beberapa saat kemudian, Mackenyu datang dengan sekantong plastik yang cukup
besar. “apa itu yang kau bawa? Kenapa banyak sekali?” tanya Yumi dengan takjub.
“aku memberikanmu roti, susu, air putih, ah ada juga kimbab. Dan beberapa
camilan lainnya.” Jelas Mackenyu mengeluarkan beberapa isi kantong plastiknya.
“kau
harus banyak makan supaya tidak sakit, aku tidak suka melihatmu sakit.” Yumi
terdiam mendengar kalimat Mackenyu barusan. “apa ada yang mengganggu pikiranmu
belakangan ini? apa pekerjaanmu terlalu berat?” Mackenyu benar – benar terlihat
khawatir. Yumi masih menunduk.
Mackenyu
pun memegang tangan Yumi dengan hangat, “kau bisa bercerita padaku Yumi, aku
ada disini untukmu. Aku akan selalu ada untuk mendengar semua ceritamu. Jadi
kau jangan menyimpannya sendiri, itu tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi
lambungmu itu.” Kata Mackenyu dengan tulus. “kau jadi tidak bisa minum kopi kan
kalau begini.” Canda Mackenyu setelah itu dan berhasil membuat Yumi terkekeh
kecil.
Mackenyu
tersenyum melihat Yumi tersenyum kecil. Detik berikutnya Mackenyu membawa Yumi
kedalam pelukannya dan menepuk punggungnya dengan lembut. “kata ibuku, pelukan
bisa membuat perasaan seseorang menjadi tenang dan hangat. Aku ingin
menyalurkan ketenangan dan kehangatan ini kepadamu melalui pelukan ini.”
Yumi
yang awalnya terkejut, namun merasa tenang dengan pelukan dan tepukan Mackenyu
di pungungnya, ia merasa sangat nyaman dipelukann Mackenyu. Perlahan ia pun
membalas pelukan Mackenyu, merasa pelukannya dibalas, Mackenyu merasa senang
dan kini mengelus punggung Yumi dengan lembut.
**
Suatu
pagi di hari minggu, Mackenyu melihat undangan dari Amerika. Ada panggilan
disana selama seminggu. Ia menatap terus undangan itu, ia berpikir keras apa ia
bisa meninggalkan Yumi selama seminggu. Ia merasa khawatir pada wanita itu.
Wanita itu terlalu rapuh di matanya.
Ia
pun mengambil ponselnya dan segera menelfon Yumi. Namun tidak diangkat,
Mackenyu mengerutkan keningnya dan mencoba menelfonnya lagi. Namun nihil tetap
tidak bisa dan malah dialihkan ke kotak suara.
Tiba
– tiba saja Mackenyu merasa khawatir dan segera bergegas ke kontrakan Yumi. Di
jalan ia terus menelfon Yumi walau tahu ponsel wanita itu tidak aktif, tapi ia
berharap ponselnya segera aktif dan bisa menjawab panggilannya.
Mackenyu
berlari dengan cepat dan perasaan yang penuh kekhawatiran. Mackenyu menyimpan ponselnya
di saku dan semakin mempercepat larinya. Ia melewati jalanan yang sering ia
lalui bersama Yumi ketika menghabiskan waktu bersama.
Setibanya
di area dekat kontrakannya Yumi. Mackenyu berhenti dan membungkuk untuk
mengatur nafasnya sebelum kembali melanjutkan perjalannya dan menaiki tangga.
Karena kontrakan Yumi berada diatas beberapa meter dari jaraknya saat ini
berdiri.
Setelah
dirasa cukup, Mackenyu mendongak dan melihat Yumi terduduk di tangga dengan
pandangan keatas langit. Mackenyu bisa bernafas lega melihat Yumi baik – baik
saja, ia pun dengan langkah yang sudah lelah, berjalan setapak demi setapak
menaiki tangga menghampiri Yumi.
Mendengar
derap langkah kaki seseorang, Yumi menoleh dan mendapati Mackenyu sudah ada di
hadapannya dengan penuh keringat dan nafas yang tersengal – sengal. “Mackenyu?
Kenapa kau berkeringat sekali? Nafasmu juga tersengal – sengal, kau berlari
kesini? Dousite?” tanya Yumi dengan heran sambil berdiri untuk melihat keadaan
Mackenyu dengan seksama.
Mackenyu
tanpa menjawab pertanyaan Yumi, ia langsung menghamburkan dirinya kepelukan
Yumi yang membuat Yumi semakin bertanya – tanya. “kau.. ada apa? Kenapa?” tanya
Yumi penasaran. “aku takut terjadi sesuatu padamu, kau tidak mengangkat
telfonmu. Aku takut lambungmu sakit lagi dan tidak ada orang yang bisa
membantumu, aku takut kau melukai dirimu sendiri lagi. Aku takut, sungguh.”
Penjelasan Mackenyu barusan membuat Yumi terdiam.
Ternyata
pertemuan pertamanya dengan Mackenyu di halte, Mackenyu melihat ada bekas luka
dipergelangan tangan Yumi. Hal itu Mackenyu sadari saat akan menerima kopi dari
Yumi. Mackenyu juga memperhatikan Yumi dari jauh ketika berada di café. Tatapan
kosongnya membuat Mackenyu bertanya – tanya apa masalah wanita itu. Mackenyu
juga khawatir, karena Yumi pernah bercerita kalau suatu pagi lambungnya sangat
sakit dan obatnya habis, tidak ada yang bisa ia mintai bantuan. Yumi hanya bisa
merintih kesakitan sendirian di kontrakannya.
**
Yumi
dan Mackenyu duduk bersebelahan di dalam kontrakan Yumi. Cukup lama mereka
berdua saling diam. Yumi yang masih bergelut dengan pikirannya, ia enggan
bercerita kepada Mackenyu namun ternyata laki – laki itu sudah mengetahuinya
walau belum semuanya dan penyebabnya.
“Ponselku
tadi masih kuisi dayanya, jadi aku tidak tahu kalau kau menelfonku. Maaf.” Ujar
Yumi setelah lama bergelut dengan pikirannya sendiri. Mackenyu melihat ponsel
Yumi yang memang sedang diisi daya di meja tidak jauh darinya duduk saat ini.
“Terimakasih
atas kekhawatiranmu juga. Aku tidak menyangka kau akan berlari kemari.” Tawa
kecil terdengar dari mulut Yumi. Mackenyu merasa kecewa, sepertinya Yumi tidak
mau menceritakannya masalahnya.
“Kau
tahu Yumi?” tanya Mackenyu yang membuat Yumi menatapnya. “Dari awal aku
melihatmu di café, aku bisa melihat kalau kau itu butuh seorang teman. Karena
kau sangat kesepian, itu terlihat dari sorot matamu.”
“Meskipun
kau tersenyum, bahkan saat ini. tapi aku tahu kalau itu tidak tulus. Kau
memaksakan dirimu untuk terlihat baik – baik saja, padahal tidak.”
“kau
berusaha membohongi dirimu sendiri untuk terlihat bahagia.”
“dan
aku tidak menyukainya”
Yumi
terdiam mendengar penuturan Mackenyu. “Aku, hanya ingin membuatmu tidak merasa
kesepian. Aku hanya ingin kau berbagi cerita denganku, tidak peduli senang atau
sedih. Aku ingin mengatakan kepadamu kalau kau tidak sendirian, ada aku. Yang
siap menjaga dan menjadi apapun yang kamu mau.”
Mata
Yumi mulai berkaca – kaca. Mackenyu memegang tangan Yumi dan menggenggamnya
seolah memberikan sebuah kekuatan dan kepercayaan. “aku ada disini Yumi, aku
ada untukmu.” Tangan Mackenyu perlahan terangkat dan menghapus airmata Yumi
yang sudah mengalir di pipinya.
Detik
berikutnya Mackenyu membawa Yumi kedalam pelukannya dan memberikan pelukan yang
penuh kehangatan. Pelukan yang jarang Yumi dapatkan, pelukan yang sangat
membuat Yumi merasa nyaman dan aman.
**
3
hari kemudian Yumi termenung di meja kerjanya. Ia masih ingat beberapa hari
yang lalu saat Mackenyu datang kerumahnya, mengkhawatirkannya namun ia tidak
bisa bercerita apapun padanya, dan saat Mackenyu berpamitan akan pergi ke
Amerika untuk beberapa hari bahkan beberapa minggu kedepan. Mackenyu juga
berjanji kepada akan segera kembali dan memberikan kabar padanya setiap ia
senggang.
Yumi
mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya, ia membaca pesan dari Mackenyu
2 hari yang lalu namun sampai saat ini belum ia balas. Yumi tahu saat ini ia
sangat jahat sekali pada Mackenyu. Namun entah kenapa ia ingin membangun tembok
yang tinggi diantara Mackenyu dan dirinya.
**
Hari
– hari berlalu Yumi lalui dengan penuh kesepian. Benar, ia kesepian setelah
kepergian Mackenyu. Memang ia ingin membangun tembok yang tinggi, namun ia
tidak menampik kalau ia kesepian dan merindukan sosok Mackenyu.
Mackenyu
yang selalu menemaninya dan bercerita hal random kepadanya, bahkan mengajaknya
keliling Jepang untuk mengambil foto. Ia juga merindukan pelukan hangat
Mackenyu.
**
Setelah
menyelesaikan pekerjaannya, Yumi mampir ke sebuah caffee untuk membeli kopi dan
membawanya pulang. Ia memegang cup kopi itu dan merasakan kehangatan dari kopi
itu. Hal itu membuatnya merasa sedikit tenang. Ia pun berjalan mendekati zebra
cross dan berhenti ketika traffic light masih menyala merah untuk pejalan kaki.
Ia
mengedarkan pandangannya lalu menatap ke seberang jalan. Ia mematung untuk
beberapa saat, traffic light menyala hijau untuk pejalan kaki. Yumi menjatuhkan
cup kopinya dan segera berlari ke seberang jalan.
Airmatanya
mengalir ketika ia berlari, dan seketika ia menghamburkan dirinya untuk memeluk
Mackenyu, orang yang sangat ia tunggu dan rindu. Mackenyu yang awalnya terkejut
namun detik berikutnya tersenyum kecil dan membalas pelukan Yumi.
**
Akhirnya
Yumi pun menceritakan semua yang membuat Mackenyu penasaran. Mulai dari
penyebab ia sering melamun dan merasa kesepian. Ia juga menceritakan masalah
mengenai pacar dari temannya yang cemburu padanya, dan ia di permalukan oleh
istri teman kerjanya di perusahaan. Bagaimana ia dicap sebagai wanita perebut
laki – laki orang. Semua hal itu lama – lama membuat Yumi frustasi dan memang
ia sempat berfikiran untuk mengakhiri hidupnya. Sehari sebelum ia berkunjung ke
makam kakeknya, Yumi menyayat pergelangan tangannya. Dan ketika ia mengunjungi
makam kakeknya, ia merasa bersalah kepada kakeknya karena hampir bunuh diri. Ia
yang merasa malu menemui kakeknya, menutupi sayatan di lengannya menggunakan
sapu tangan.
Dan
ketika ada tawaran pergi ke Jepang, ia memutuskan segera mengambilnya sebelum
Yoohan mengambilnya. Ini kesempatan yang ia ambil. Mungkin dengan begini ia
menghindar dari semua orang dan tidak akan ada lagi orang yang membicarakannya
ataupun cemburu kepadanya.
Lalu,
saat bertemu dengan Mackenyu, awalnya ia belum bisa menerimanya sebagai teman.
Namun ia juga butuh seorang teman apalagi di negeri orang, karena itu ia
memberanikan diri menerima tawaran Mackenyu untuk berteman dengannya.
Lama
berteman dan menghabiskan waktu bersama Mackenyu. Yumi merasa sangat senang dan
nyaman. Ia tidak merasa khawatir tentang orang lain yang akan mengecapnya
sebagai perebut laki – laki orang. Entah kenapa Yumi merasa hal itu tidak akan
terjadi ketika ia bersama Mackenyu. Mackenyu, laki – laki pertama yang membuat
Yumi merasa nyaman dan menjadi diri sendiri.
Walaupun
ia belum bisa terbuka sepenuhnya kepada Mackenyu, namun kepergian Mackenyu ke
Amerika beberapa minggu ini membuatnya tersadar. Kalau ia membutuhkan Mackenyu,
ia merindukan Mackenyu, dan ia menyukai Mackenyu, tidak, Yumi rasa hatinya
sudah terbuka lebar untuk Mackenyu. Itulah kenapa, ketika melihat Mackenyu yang
baru pulang dari Amerika. Yumi segera berlari dan memeluknya dengan erat.
Seolah menyalurkan rasa rindunya selama ini.
**
Mackenyu
memegang kedua tangan Yumi, ia berjongkok di depan Yumi dan mengecup kedua
tangan Yumi bergantian lalu mendongak menatap Yumi. Yumi merasa malu, namun
juga bisa merasakan betapa tulusnya laki – laki didepannya ini. “Terimakasih,
kau sudah percaya padaku. Menungguku, dan mencintaiku. Aku sangat senang
mendengarnya. Ini adalah hal terindah yang terjadi dihidupku.” Wajah Mackenyu
benar – benar terlihat sangat bahagia. Yumi pun sedikit membungkuk dan memeluk
Mackeyu yang masih berjongkong didepannya.
“Aku
yang berterimakasih padamu. Kau sudah membawa kebahagiaan di hidupku, kau sudah
mewarnaiku hidupku yang abu – abu. Kau yang menunjukkan tulusnya cinta padaku,
kau yang sudah berhasil membuka pintu hatiku yang berkarat. Kehadiranmu
menghapuskan sepi dihidupku. Dan kehangatan pelukanmu, sehangat secangkir kopi
yang selalu ku beli di café. Terimakasih banyak.”
Yumi
melepaskan pelukannya namun tangannya masih berada di pundak Mackenyu,
sedangkan tangan Mackenyu masih setia melingkar di punggung Yumi. Mereka saling
tersenyum degan jarak yang sangat dekat.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar